Foto ilustrasi: Petugas Dinas Kesehatan memeriksa sampel makanan untuk mendukung penyelidikan kasus dugaan keracunan yang dialami belasan siswa SDN 3 Banjar Jawa, Singaraja, Buleleng, Bali.
BULELENG, Bali Berkabar – Sebanyak 16 siswa SD Negeri 3 Banjar Jawa, Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, dilaporkan mengalami mual, pusing, hingga sakit perut. Hingga Jumat (9/10/2026), tiga siswa di antaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Dilansir dari Radar Bali, keluhan kesehatan tersebut mulai dialami para siswa sejak Selasa (6/10/2026). Meski sejumlah siswa mengalami gejala serupa, penyebab pasti kejadian yang diduga sebagai keracunan tersebut belum dapat dipastikan.
Kepala SDN 3 Banjar Jawa, I Putu Susila Darma, membenarkan adanya sejumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan. Namun, pihak sekolah belum dapat menyimpulkan apakah kejadian tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi para siswa atau faktor lainnya.
Dalam pemberitaan Radar Bali, Susila Darma menjelaskan bahwa kondisi para siswa yang mengalami gejala terbilang beragam. Bahkan, beberapa siswa yang mengeluhkan gangguan kesehatan disebut tidak mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain itu, sejumlah siswa diketahui membawa bekal sendiri dari rumah, seperti nugget, sosis, dan spaghetti. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menelusuri kemungkinan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Sebelum keluhan tersebut muncul, sebagian siswa kelas I, II, dan V juga mengikuti kegiatan imunisasi difteri tetanus (DT) pada Senin (5/10/2026). Namun, belum ada kepastian mengenai hubungan kegiatan imunisasi tersebut dengan kondisi kesehatan para siswa.
Hingga Jumat, tiga siswa masih menjalani perawatan di RSUD Buleleng dan RSU Parama Sidhi Singaraja. Sementara itu, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami belasan siswa tersebut belum dapat disimpulkan berdasarkan informasi yang tersedia.
Penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk memastikan faktor yang memicu kejadian tersebut. Dengan demikian, dugaan keracunan tidak serta-merta dikaitkan dengan makanan tertentu maupun kegiatan imunisasi sebelum terdapat hasil pemeriksaan yang mendukung.
Sumber: Radar Bali
Editor: Gede Sumertayasa, S.H.


Social Header