Foto: Gede Pasek Suardika, GPS (tengah) memberikan pernyataan dalam konferensi pers yang diadakan di lokasi panti asuhan.
BULELENG, Baliberkabar.id – Kuasa hukum tersangka kasus dugaan kekerasan di sebuah panti asuhan di Kabupaten Buleleng, Gede Pasek Suardika, menyoroti dampak psikologis yang dialami anak-anak akibat pemisahan mereka dari lingkungan panti. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka menekankan pentingnya menjaga kesejahteraan anak-anak yang berada di panti, terlepas dari proses hukum yang menjerat kliennya.
Menurut Suardika, anak-anak yang tinggal di panti telah membentuk ikatan emosional yang kuat, menjadi satu keluarga besar. Pemisahan secara paksa terhadap tujuh anak yang menjadi korban dalam kasus tersebut, kata dia, menimbulkan tekanan emosional hingga terlihat dari tangisan mereka saat harus meninggalkan panti.
"Anak-anak sudah merasa nyaman di sini. Kini mereka dipisahkan, menangis, dan hal itu berdampak pada psikologis mereka. Memisahkan anak dari lingkungan yang damai dan nyaman adalah tindakan yang dapat disebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan," ujar Gede Pasek Suardika, yang dikenal dengan sebutan GPS.
Ia menegaskan, persoalan kekerasan dan dugaan persetubuhan yang menjerat kliennya merupakan kasus hukum yang berbeda dan sepenuhnya menjadi ranah kepolisian untuk melakukan penyelidikan.
“Hal ini harus dipisahkan dari aspek kemanusiaan. Kasus hukum tetap berjalan sesuai prosedur, dan pembuktiannya nanti ada di pengadilan,” tambah GPS.
Ia juga mengkritisi pihak-pihak yang terlalu cepat menjustifikasi atau menghakimi terlapor tanpa memahami kondisi nyata di panti. Menurutnya, sejumlah narasi berlebihan, termasuk menyebut terlapor dengan istilah seperti “Bak Neraka” atau “Predator”, adalah contoh penilaian sepihak yang tidak berdasar.
Ia menantang pihak yang terlalu menghakimi, termasuk Dinas Sosial, untuk turun langsung membantu anak-anak.
“Daripada hanya menilai dari luar, ayo datang ke panti, berikan bantuan nyata. Jika perlu, buka panti sendiri dan rawat anak-anak yang datang dari berbagai latar belakang sosial, ada yang yatim, ada yang keluarganya miskin. Saya yakin, tidak sampai tiga bulan, mereka tidak akan sanggup menangani,” ujarnya tegas.
Lebih lanjut, GPS menyoroti kondisi anak-anak yang kini kekurangan dukungan sehari-hari. Kakak-kakak yang biasanya menyiapkan makanan untuk anak-anak telah dipindahkan, sehingga anak-anak justru sering telat makan. Ia menekankan, “Daripada diam bengong menjaga panti, lebih baik ikut membantu menyiapkan makanan. Itu baru tindakan kemanusiaan nyata, bukan sekadar pernyataan.”
GPS juga menekankan bahwa semua pernyataan ini didasarkan pada pengamatan dan keterangan kliennya, dan tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Ia berharap seluruh pihak tetap objektif, memisahkan isu kemanusiaan anak-anak dari proses hukum, dan memastikan anak-anak tetap terlindungi serta mendapat perhatian yang layak. (Smty)


Social Header