Breaking News

Putri Koster Dorong Industri Kecil dan Menengah (IKM) Bali Naik Kelas, dari Pasar Lokal Menuju Panggung Dunia

Ny. Putri Suastini Koster mendampingi dan memberikan masukan kepada pelaku IKM Bali dalam Kriyanusa 2026.

JAKARTA, Bali Berkabar – Produk kerajinan Bali kembali mendapat ruang untuk menunjukkan kualitas dan kekayaan budaya Pulau Dewata di panggung nasional. Melalui keikutsertaan 23 industri kecil dan menengah (IKM) binaan Dekranasda Bali dalam Kriyanusa 2026 di Jakarta, Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mendorong para perajin agar tidak berhenti menjadi kuat di pasar lokal, tetapi berani menatap pasar nasional hingga internasional.

Bagi Ny. Putri Koster, pameran bukan sekadar tempat memajang produk. Kriyanusa menjadi ruang untuk mempertemukan kreativitas perajin Bali dengan pasar yang lebih luas sekaligus menguji sejauh mana produk lokal mampu bersaing dengan karya dari berbagai daerah.

Karena itu, kehadiran Dekranasda Bali di Kriyanusa 2026 tidak hanya membawa produk unggulan, tetapi juga memberikan pendampingan langsung kepada para pelaku IKM.

Sehari sebelum pameran dibuka, Ny. Putri Koster telah berada di lokasi bersama Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali I Gusti Ngurah Wiryanata serta jajaran pengurus Dekranasda Bali. Ia ikut melihat kesiapan stan, memberikan masukan mengenai penataan produk, hingga turut memperkenalkan Hall Bali kepada pengunjung.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan IKM tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk berkualitas. Cara menampilkan produk, membangun daya tarik, membaca kebutuhan pasar, hingga memperluas jejaring pemasaran juga menjadi bagian penting agar karya perajin memiliki nilai jual yang semakin tinggi.

“Kami dari seluruh Indonesia hadir di sini, berpartisipasi memperkenalkan produk kerajinan yang menjadi keunggulan dan ciri khas masing-masing daerah,” ujar Ny. Putri Koster.

Di Hall A2 hingga A21, sebanyak 23 IKM binaan Dekranasda Bali menghadirkan beragam produk, mulai dari kain tenun tradisional, busana, aksesori, tas, kerajinan emas dan perak, ukiran kayu hingga kerajinan logam.

Kekuatan produk Bali juga terlihat dari keberanian para pelaku IKM mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan akar budaya. Sejumlah desainer menghadirkan karya dengan karakter masing-masing, termasuk Body and Mind dengan ornamen pis bolong, Deluxe dengan sentuhan lukisan tangan, serta Taksu dan Lusi Damai yang mengembangkan ciri khasnya masing-masing.

Tidak hanya busana, kreativitas perajin juga hadir melalui pemanfaatan berbagai material, termasuk kulit jagung, batok kelapa, daun hingga akar yang diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Bagi Ny. Putri Koster, kekayaan tersebut merupakan modal besar yang dimiliki Bali. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan budaya itu terus dirawat, dikembangkan dan diterjemahkan menjadi produk yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Salah satu kekuatan yang diperkenalkan dalam Kriyanusa adalah kain tradisional Bali, seperti Rangrang dari Nusa Penida dan Gringsing dari Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem.

Gringsing secara khusus menjadi salah satu warisan budaya yang memiliki keunikan tersendiri karena menggunakan teknik tenun ikat ganda (double ikat) yang langka.

“Gring artinya sakit, sedangkan sing berarti tidak. Jadi, jika disatukan, bermakna tidak sakit,” jelasnya.

Kekayaan filosofi, teknik pengerjaan dan nilai budaya itulah yang menurut Ny. Putri Koster harus menjadi kekuatan untuk membangun nilai tambah produk Bali.

Para perajin didorong tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga terus berinovasi agar produk yang lahir dari tangan-tangan kreatif Bali mampu menjawab selera pasar modern.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat Kriyanusa 2026 yang mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia.”

Pameran yang berlangsung 26–30 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, tersebut menghadirkan 410 stan dengan 257 peserta dari berbagai unsur.

Kriyanusa menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa produk kerajinan daerah bukan sekadar benda bernilai estetika. Di balik setiap karya terdapat identitas budaya, kreativitas, keterampilan dan potensi ekonomi masyarakat.

Bagi Bali, kehadiran 23 IKM binaan Dekranasda menjadi bagian dari langkah untuk memperluas pangsa pasar sekaligus membangun kepercayaan diri para perajin.

Dari pasar lokal, produk Bali didorong naik kelas ke pasar nasional. Dari panggung nasional, peluang menuju pasar internasional pun semakin terbuka.

Semangatnya sederhana: tetap berakar pada budaya Bali, tetapi tidak takut melangkah menuju pasar dunia. (Hms)

Editor: Gede Sumertayasa, S.H.


© Copyright 2022 - Bali Berkabar