Kepala Desa Munduk, I Nengah Sudira, S.H., didampingi Sekdes, Putu Sukardana, mengatakan target PAD Desa Munduk pada 2026 sebelumnya dipatok sekitar Rp110 juta. Namun hingga Rabu, 7 Oktober 2026, realisasinya telah mencapai sekitar Rp169 juta.
BULELENG, Bali Berkabar – Perkembangan pariwisata di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, mulai memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan desa. Pemerintah Desa Munduk mencatat pendapatan asli desa (PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata pada 2026 telah melampaui target yang ditetapkan sebelumnya.
Kepala Desa Munduk, I Nengah Sudira, S.H., didampingi Sekdes, Putu Sukardana, mengatakan target PAD Desa Munduk pada 2026 sebelumnya dipatok sekitar Rp110 juta. Namun hingga Rabu, 7 Oktober 2026, realisasinya telah mencapai sekitar Rp169 juta.
“Target awal kami Rp110 juta. Sekarang sudah mencapai sekitar Rp169 juta dan ini belum sampai akhir tahun,” kata Sudira saat ditemui di Kantor Desa Munduk, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, kontribusi sektor pariwisata tersebut antara lain berasal dari pembagian hasil pengelolaan objek wisata yang berada di wilayah Munduk, seperti Danau Tamblingan dan Air Terjun Melanting. Pengelolaannya melibatkan BUMDes dengan mekanisme pembagian sesuai kesepakatan antara pihak-pihak terkait.
Sudira menjelaskan, pemasukan dari objek wisata terlebih dahulu dikelola melalui mekanisme yang telah ditetapkan. Setelah dilakukan pembagian sesuai ketentuan, bagian yang menjadi pendapatan desa dinas kemudian masuk ke dalam APBDes.
“Yang masuk ke desa dinas itu menjadi PAD desa dan kemudian dianggarkan melalui APBDes. Penggunaannya bisa dilihat dalam APBDes yang kami pasang secara terbuka,” jelasnya.
Ia menegaskan, pemerintah desa dinas tidak melakukan pungutan terhadap pembangunan vila atau usaha pariwisata milik masyarakat maupun investor. Menurutnya, apabila terdapat kontribusi kepada desa adat, hal tersebut merupakan ranah desa adat sesuai status tanah dan ketentuan yang berlaku.
“Kalau dari desa dinas, nol. Kami tidak mengelola dana dari pembelian tanah untuk pembangunan vila. Kalau ada kontribusi kepada desa adat, itu ranah desa adat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penjelasan atas munculnya komentar masyarakat di media sosial yang mempertanyakan perkembangan pariwisata di Munduk namun menilai manfaat ekonominya bagi masyarakat dan desa masih kecil.
Sudira menyebut pertanyaan tersebut perlu dilihat secara utuh karena pemasukan dari pariwisata memang ada dan telah memberikan kontribusi terhadap PAD desa. Namun, tidak seluruh aktivitas ekonomi pariwisata secara otomatis menjadi pendapatan desa dinas.
Ia juga mengakui perkembangan pariwisata di Munduk tidak hanya menghadirkan dampak positif. Di satu sisi, sektor tersebut membuka lapangan pekerjaan dan memberikan peluang bagi masyarakat lokal. Di sisi lain, pemerintah desa harus menjaga agar keberadaan usaha pariwisata tidak menimbulkan persoalan dengan masyarakat yang telah lebih dahulu tinggal di kawasan tersebut.
“Kami tetap membutuhkan pariwisata, tetapi prinsip kami pariwisata itu sebagai bonus. Jangan sampai masyarakat kami hanya menjadi penonton karena investasi masuk,” kata Sudira.
Menurutnya, pemerintah desa juga mendorong agar investor yang masuk ke Munduk memberikan ruang bagi masyarakat lokal, terutama dalam penyerapan tenaga kerja.
Ia menyebut sebagian anak muda Munduk kini bekerja di sektor pariwisata, baik di wilayah desa maupun di luar daerah. Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat lokal, pemerintah desa juga mendukung berbagai kegiatan peningkatan kapasitas, termasuk pembelajaran bahasa yang melibatkan perguruan tinggi.
“Kalau masyarakat kami punya kemampuan, jangan sampai karena tidak bisa bahasa akhirnya tenaga dari luar yang dipakai. Kami ingin masyarakat Munduk juga bisa mengambil peluang dari pariwisata,” katanya.
Selain persoalan ekonomi, Sudira menyoroti tantangan lain yang tidak kalah penting, yakni menjaga lahan pertanian dan lingkungan di tengah perkembangan pariwisata.
Desa Munduk, kata dia, masih memiliki potensi pertanian, perkebunan, persawahan, hutan, dan kawasan wisata alam yang menjadi daya tarik wisatawan. Karena itu, pemerintah desa tidak ingin perkembangan pariwisata justru menghilangkan karakter alam dan pertanian yang selama ini menjadi kekuatan Munduk.
Namun, persoalan regenerasi petani menjadi salah satu tantangan. Anak-anak muda dinilai semakin sedikit yang berminat melanjutkan pekerjaan orang tua di sektor pertanian.
“Kami sebenarnya ingin sawah tetap ada dan lestari. Tetapi kendalanya sekarang regenerasi. Anak-anak muda banyak yang tidak mau bekerja di sawah,” ungkapnya.
Terkait pembangunan di kawasan pertanian, Sudira mengatakan Pemerintah Desa Munduk selama ini mengacu dan menyosialisasikan ketentuan pemerintah daerah mengenai perlindungan lahan pertanian dan aturan pembangunan.
Menurutnya, pemerintah desa belum membuat peraturan desa khusus mengenai kawasan tersebut. Namun, pihak desa tetap melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami ketentuan yang berlaku, terutama terkait larangan alih fungsi lahan pertanian.
“Kalau dari desa kami belum membuat aturan khusus. Kami masih menyosialisasikan aturan dari pemerintah kabupaten. Yang penting sawah jangan sampai dialihfungsikan sembarangan,” katanya.
Sudira mengatakan pemerintah desa ingin perkembangan pariwisata berjalan seiring dengan keberlangsungan pertanian dan kelestarian lingkungan.
Pasalnya, daya tarik Desa Munduk tidak hanya terletak pada penginapan dan usaha wisata, tetapi juga pada panorama alam, persawahan, perkebunan, Danau Tamblingan, Air Terjun Melanting, serta kawasan hutan yang menjadi bagian dari potensi wisata trekking.
“Harapan kami pariwisata tetap berkembang, tetapi hijaunya Munduk tetap dipertahankan. Jangan sampai karena pariwisata kemudian sawah dan alamnya hilang,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah desa bersama desa adat terus berupaya berkolaborasi dalam menangani berbagai kebutuhan masyarakat. Dengan keterbatasan dana desa, peningkatan PAD dari sektor pariwisata dinilai memberikan ruang lebih bagi desa untuk membiayai berbagai kebutuhan pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Bagi Pemerintah Desa Munduk, perkembangan pariwisata bukan semata-mata soal bertambahnya jumlah wisatawan atau investasi. Tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat lokal tanpa mengorbankan lingkungan dan pertanian yang menjadi bagian dari identitas Desa Munduk.
Penulis: Gede Sumertayasa, S.H.


Social Header