Breaking News

Pemprov Bali Dorong Pengobatan Tradisional Berbasis Aksara Bali Masuk Layanan Kesehatan


BULELENG, Baliberkabar.id – Pemerintah Provinsi Bali menegaskan komitmennya untuk mengembangkan sistem pengobatan tradisional Bali agar dapat diterapkan secara luas dan ilmiah di fasilitas pelayanan kesehatan. Dukungan tersebut disampaikan dalam Seminar Bedah Buku Sistem Pengobatan Tradisional Berbasis Aksara Bali yang digelar di Kampus Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Rabu (14/1/2026). Seminar dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, DR. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes, yang mewakili Wakil Gubernur Bali.

Kegiatan ini diprakarsai oleh akademisi dan praktisi kesehatan Bali sebagai upaya menguatkan warisan pengobatan leluhur agar selaras dengan pendekatan medis modern.

Dalam keterangannya, Nyoman Gede Anom menyatakan seminar tersebut merupakan bentuk nyata implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 55 Tahun 2019 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional.

“Pengobatan tradisional berbasis aksara Bali ini adalah warisan leluhur. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengilmiahkannya agar dapat diterima dan diterapkan di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pemprov Bali mendorong integrasi layanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional rasional. Model ini, menurutnya, telah mulai diterapkan di RS Bali Mandara dan akan diperluas ke fasilitas kesehatan lain.

“Kalau sudah berbasis ilmiah, maka faskes bisa menerima dan menerapkannya di poli masing-masing. Kita ingin layanan kesehatan di Bali terintegrasi, antara konvensional dan tradisional rasional,” tambahnya.

Seminar menghadirkan para penulis buku, di antaranya Prof. Dr. I Wayan Muderawan, M.S, Gede Suardana, S.Farm., Apt, serta Dr. dr. Ketut Suparna, Sp.B., M.Si. Diskusi juga diperkaya dengan pandangan panelis dari unsur akademisi, budayawan, hingga praktisi medis.

Salah satu penulis buku, Gede Suardana, mengungkapkan bahwa penulisan buku tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kekayaan pengobatan tradisional Bali yang selama ini belum tersusun secara sistematis.

“Pengobatan tradisional berbasis aksara Bali memiliki nilai yang sangat besar. Namun selama ini lemah dari sisi sistem dan metodologi,” katanya.

Menurut Suardana, pendekatan “mula keto” atau sekadar berbasis kepercayaan tidak cukup untuk menjadikannya sebagai cabang ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan medis.

“Melalui buku ini kami mencoba menyusun sistem dan metode yang terstruktur, sehingga bisa dipelajari secara rasional dan ilmiah, termasuk dalam edukasi kepada pasien,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu pemrakarsa kegiatan sekaligus Ketua Puskor Hindunesia Dekorda Buleleng, Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG, menilai pro dan kontra terhadap pengobatan tradisional merupakan hal wajar dalam dunia akademik.

“Dalam ilmu pengetahuan selalu ada tesis dan antitesis. Dari situ akan lahir sintesa yang lebih presisi dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa konsep kesehatan sejatinya bersifat holistik, mencakup aspek fisik, emosional, sosial, mental, hingga spiritual.

“Pengobatan medis dan nonmedis seharusnya berjalan beriringan. Ilmu pengobatan tradisional berbasis aksara Bali ini adalah warisan luar biasa yang perlu terus dikembangkan,” pungkasnya.

Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Buleleng, anggota DPRD Buleleng, perwakilan rumah sakit dan puskesmas se-Bali, serta pengusadha dari Gotra Pengusadha Bali. Acara ditutup dengan penyerahan buku, plakat, serta pelayanan kesehatan tradisional kepada para peserta. (Smty)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar