BULELENG, Baliberkabar.id — Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mulai mengerjakan perbaikan senderan sungai yang jebol di sekitar SMP Negeri 3 Busungbiu, Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Pengerjaan fisik dimulai pada Minggu (18/1/2026) pagi, menyusul banjir yang menggerus bantaran sungai dan mengancam keselamatan lingkungan sekolah.
Pantauan Bali Berkabar di lokasi, sejak sekitar pukul 08.30 Wita satu unit alat berat jenis ekskavator sudah beroperasi di bantaran Tukad Pulukan. Alat berat tersebut digunakan untuk membersihkan area kerja serta memindahkan batu-batu besar yang sebelumnya terbawa arus banjir, sebagai tahapan awal pembangunan senderan permanen.
Pengerjaan senderan ini dilakukan untuk menahan laju arus sungai agar tidak kembali menggerus lahan sekolah, terutama saat debit air meningkat. Pemerintah daerah menargetkan pekerjaan dapat diselesaikan secepatnya sehingga aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 3 Busungbiu dapat kembali berlangsung dalam kondisi aman dan nyaman.
Langkah ini merupakan tindak lanjut atas banjir dan luapan Tukad Pulukan yang terjadi pada Kamis (15/1/2026). Peristiwa tersebut dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Busungbiu sejak siang hari hingga sore.
Kepala SMP Negeri 3 Busungbiu, Made Armada, menjelaskan bahwa hujan mulai turun sekitar pukul 12.00 Wita dan mencapai intensitas tertinggi pada pukul 15.00 hingga 18.00 Wita. Bahkan sebelum hujan mencapai puncaknya, air sudah mulai meluap ke area sekolah.
“Pada hari Kamis, 15 Januari 2026, hujan mulai turun sekitar pukul 12.00 Wita. Puncaknya terjadi antara pukul 15.00 sampai 18.00 Wita. Namun sekitar pukul 14.00 Wita, air sudah mulai masuk ke lingkungan sekolah melalui saluran parit,” jelasnya.
Saat kejadian, pihak sekolah bersama sejumlah guru dan siswa masih berada di lingkungan sekolah karena adanya kegiatan OSIS. Kondisi ini membuat pihak sekolah langsung melakukan pemantauan ketat, mengingat lokasi sekolah berada sangat dekat dengan aliran sungai.
“Sekolah kami ini posisinya memang sangat dekat dengan daerah aliran sungai. Ada dua titik yang menjadi perhatian utama kami, yaitu ruang kelas VII A dan VII C, karena jaraknya paling dekat dengan sungai,” ujar Armada.
Ia mengungkapkan, jika terjadi jebol susulan, dua ruang kelas tersebut berpotensi terdampak langsung oleh arus sungai, bahkan risiko kerusakan dapat meluas hingga ke lapangan sekolah.
“Kalau sampai terjadi jebol lagi, dua ruang kelas itu sangat berisiko tergerus. Dampaknya bahkan bisa sampai ke lapangan sekolah,” katanya.
Pasca kejadian banjir, pihak sekolah segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng. Berdasarkan hasil koordinasi tersebut serta memperhatikan informasi cuaca ekstrem dari BMKG, sekolah memutuskan menerapkan pembelajaran daring sementara.
“Karena ini menyangkut keselamatan siswa dan tempat belajar, kami mendapatkan arahan dari Kepala Dinas Dikpora yang meninjau langsung sekolah. Solusi yang diambil adalah melaksanakan pembelajaran secara daring sambil memantau kondisi cuaca,” jelasnya.
Mulai awal pekan berikutnya, siswa diarahkan belajar dari rumah. Sementara itu, guru dan pegawai tetap berada di sekolah untuk memantau kondisi lingkungan dan perkembangan cuaca di Desa Sepang.
“Mulai Senin, anak-anak kami arahkan belajar dari rumah. Kami para guru dan pegawai tetap berada di sekolah untuk memantau kondisi cuaca dan lingkungan,” tambahnya.
Terkait durasi pembelajaran daring, pihak sekolah mengikuti petunjuk yang berlaku bagi sekolah di wilayah rawan bencana. Pembelajaran tatap muka akan kembali dilaksanakan setelah kondisi dinyatakan aman.
“Nanti siswa akan kami kembalikan belajar secara luring dengan catatan situasi sudah aman. Jam masuk sekolah juga bisa disesuaikan, tidak harus pukul 07.30 Wita, bisa lebih siang demi keselamatan,” ujar Armada.
Sebelumnya, Kepala Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, meninjau langsung SMP Negeri 3 Busungbiu pada Jumat (16/1/2026). Ia mengimbau pihak sekolah agar menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi cuaca dan keamanan lingkungan.
“Saya berharap kepala sekolah bisa mengatur proses pembelajaran menyesuaikan kondisi cuaca. Kalau cuacanya ekstrem, pembelajaran daring bisa dipertimbangkan supaya keselamatan anak-anak tetap terjamin,” katanya.
Sehari berselang, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, juga turun langsung ke lokasi pada Sabtu (17/1/2026). Ia menegaskan kondisi sekolah sudah masuk kategori rawan dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
“Erosi sungai membuat jarak aliran sungai dengan ruang kelas semakin dekat. Ini sudah berisiko dan harus segera ditangani,” tegas Sutjidra.
Sebagai tindak lanjut dari hasil peninjauan tersebut, Pemkab Buleleng kemudian menginstruksikan percepatan pengerjaan senderan sungai yang kini mulai dikerjakan oleh Dinas PUPR. (Smty)


Social Header