Breaking News

Meski Ogoh-ogoh Roboh, Pengerupukan Nyepi di Pelapuan Tetap Meriah, Peran Ibu-ibu Disorot

Foto: Ogoh-ogoh yang diarak sebelum roboh.

BULELENG, Baliberkabar.id – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1448 di Desa Pelapuan, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Rabu (18/3/2026), berlangsung meriah melalui prosesi pengerupukan yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat.

Prosesi pengerupukan dimulai sekitar pukul 18.00 WITA. Rangkaian kegiatan diawali oleh anak-anak sekolah dasar yang berkeliling desa sambil membawa obor tradisional, menciptakan suasana hangat dan penuh keceriaan.

Arak-arakan ogoh-ogoh dimulai dari depan kantor kepala desa, dilanjutkan oleh kalangan muda-mudi bersama masyarakat dewasa yang mengusung ogoh-ogoh berkeliling desa. Iringan tabuh baleganjur menggema di sepanjang jalur yang dilalui, menambah semarak suasana.

Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, peran ibu-ibu menjadi sorotan tersendiri. Mereka tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga mengambil peran penting dalam berbagai lini prosesi, mulai dari mengusung ogoh-ogoh hingga membawa obor tradisional.

Sebagian ibu-ibu lainnya turut memainkan tabuh baleganjur dengan penuh kekompakan dan energi, menghadirkan irama yang kuat dan penuh penghayatan. Perpaduan antara gerak ogoh-ogoh, cahaya obor, dan irama baleganjur menciptakan suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat makna dan kekhusyukan.

Dalam jalannya arak-arakan, sempat terjadi insiden kecil saat salah satu ogoh-ogoh roboh ketika menampilkan atraksi berputar. Diduga karena ukuran dan beratnya, ogoh-ogoh tersebut tidak dapat ditegakkan kembali dan kemudian dipindahkan dengan cara diseret. Meski demikian, kejadian tersebut tidak mengganggu jalannya prosesi secara keseluruhan.

Selain arak-arakan, kegiatan juga diisi dengan pementasan sendratari yang mengangkat kisah dari epos Mahabharata. Pertunjukan yang digelar di pertigaan jalan desa tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Dalam salah satu adegan, seorang penari sempat mengalami kondisi tidak sadar atau trance, yang semakin memperkuat nuansa sakral prosesi.

Murid SD 1 Pelabuhan mengarak ogoh-ogoh di bawah pengawasan guru mereka.

Di tengah kemeriahan tersebut, kehadiran masyarakat sebagai penonton turut menambah semarak suasana. Salah satunya Ketut Nopi Prismadewi, seorang ibu rumah tangga yang mendampingi anaknya mengikuti pengerupukan.

Ia mengaku senang karena anaknya yang masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar dapat ikut berpartisipasi dalam tradisi tersebut. “Saya sangat senang anak saya bisa ikut terlibat dalam pengerupukan di desa. Ini pengalaman yang bagus untuk dia sejak kecil,” ujarnya.

Menurutnya, pendampingan orang tua tetap diperlukan, terutama saat anak membawa obor tradisional. “Saya ikut mengawasi karena anak saya masih kecil, apalagi membawa obor. Jadi harus tetap didampingi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Ia juga mengaku bangga melihat peran aktif kaum perempuan dalam prosesi tersebut.
“Melihat ibu-ibu ikut mengusung ogoh-ogoh, membawa obor, hingga menabuh baleganjur itu sungguh luar biasa. Ini menunjukkan bahwa perempuan juga dapat diandalkan dalam berbagai kegiatan,” tambahnya.

Para ibu-ibu tetap eksis saat mengarak ogoh-ogoh.

Untuk memastikan seluruh rangkaian berjalan tertib dan aman, aparat keamanan turut terlibat aktif di lapangan. Personel TNI melalui Babinsa, Polri melalui Bhabinkamtibmas, serta Pecalang desa setempat bersinergi mengatur arus lalu lintas dan menertibkan penonton.

Secara keseluruhan, prosesi pengerupukan di Desa Pelapuan berlangsung lancar, tertib, dan aman. Masyarakat mengikuti setiap tahapan dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan sebagai bagian dari persiapan menyambut Hari Raya Nyepi.

Tradisi pengerupukan merupakan bagian penting dari rangkaian Nyepi, sebagai simbol pembersihan unsur negatif (bhuta kala) sebelum memasuki hari suci yang dipenuhi keheningan. (Smty)

© Copyright 2022 - Bali Berkabar