Breaking News

Balita 4 Tahun di Banyuning Meninggal Dunia Akibat DBD, Kasus di Buleleng Tembus 109

Foto: Drh. Nyoman Dhukajaya (berpakaian merah) bersama ayah dan keluarga korban.

Buleleng, Baliberkabar.id – Kasus demam berdarah dengue (DBD) kembali merenggut korban jiwa di Kabupaten Buleleng. Seorang anak perempuan berusia 4 tahun di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan akibat infeksi virus DBD yang berkembang menjadi kondisi berat.

Peristiwa ini menambah catatan serius penyebaran DBD di Buleleng yang hingga awal April 2026 telah mencapai ratusan kasus.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, korban mulai mengalami gejala awal pada Kamis (2/4/2026) berupa demam. Sehari kemudian, Jumat (3/4/2026), pihak keluarga membawa korban ke instalasi gawat darurat (IGD) salah satu rumah sakit di Buleleng untuk mendapatkan penanganan medis.

Setelah sempat mendapat perawatan, korban diperbolehkan pulang. Namun kondisi kesehatan tidak menunjukkan perbaikan.

Pada Sabtu (4/4/2026), keluarga kemudian membawa korban untuk melakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Hasil pemeriksaan membuat keluarga kembali waspada terhadap kondisi anaknya.

Memasuki Minggu (5/4/2026) malam, korban kembali dilarikan ke IGD dan menjalani pemeriksaan lanjutan. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter mulai mengarah pada dugaan infeksi DBD.

Kondisi korban semakin memburuk pada Senin (6/4/2026) hingga akhirnya harus dirawat di ruang ICU dan mendapatkan bantuan oksigen. Pada saat itu, trombosit korban dilaporkan terus menurun drastis.

“Hari Senin trombositnya sudah turun ke 60.000 mcl, lalu Selasa pagi turun lagi ke 30.000 mcl. Siang hari dinyatakan meninggal dunia,” ungkap ayah korban, Gede Andy Pradnyana.

Dugaan Kondisi DSS dan Penanganan Medis
Pihak fasilitas kesehatan menyebut korban mengalami kondisi dengue shock syndrome (DSS), yaitu komplikasi berat dari DBD yang dapat menyebabkan penurunan fungsi organ hingga syok.

Disisi lain, Kepala Puskesmas III Buleleng, dr. Siti Nurul Aisyah, menyampaikan bahwa pihaknya menerima laporan kematian pasien pada malam hari setelah kejadian di rumah sakit.

“Kami menerima informasi meninggal pada 7 April malam dari pihak rumah sakit,” ujarnya.

Ia menambahkan, tim kesehatan akan melakukan penyelidikan epidemiologi di sekitar lokasi tempat tinggal korban untuk memastikan potensi penyebaran penyakit.

Data DBD di Buleleng Tembus 109 Kasus
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, hingga awal April 2026 tercatat 109 kasus DBD tersebar di sejumlah wilayah.

Kepala Dinkes Buleleng, Sucipto, menyebut kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia produktif, namun anak-anak juga masih menjadi kelompok rentan.

“Kasus DBD didominasi usia 15–44 tahun sebanyak 42,2 persen, kemudian usia 5–14 tahun sebesar 33 persen. Untuk balita juga masih ditemukan kasus,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya, menilai DBD masih menjadi persoalan endemik yang sangat dipengaruhi kondisi lingkungan.

“DBD ini penyakit endemik, sangat dipengaruhi sanitasi, sampah, dan kepadatan penduduk. Pemerintah harus memperkuat langkah preventif,” ujarnya.

Dari pihak keluarga, Gede Andy Pradnyana, ayah korban, berharap kejadian serupa tidak terulang kembali dan menjadi perhatian serius bagi semua pihak.

“Kami hanya berharap tidak ada lagi korban seperti ini. Semoga ini jadi perhatian bersama,” ucapnya dengan nada sedih. (Smty)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar