Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, M.Si. Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
DENPASAR, Baliberkabar.id — Di tengah bayang-bayang tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sektor pariwisata Bali justru dinilai sedang mendapat “angin segar” yang berpotensi mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).
Kondisi kurs rupiah yang melemah membuat biaya liburan di Indonesia menjadi jauh lebih murah bagi wisatawan asing, khususnya mereka yang menggunakan mata uang dolar AS, euro maupun dolar Singapura. Situasi ini dinilai menjadi peluang emas bagi Bali untuk semakin kompetitif di pasar wisata internasional.
Pulau Dewata bersama sejumlah destinasi super prioritas nasional seperti Labuan Bajo, Danau Toba hingga Likupang diprediksi bakal menikmati peningkatan arus kunjungan wisman dalam beberapa bulan ke depan.
Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, , mengatakan pelemahan rupiah memang memberikan keuntungan tersendiri bagi wisatawan asing dari sisi pengeluaran selama berada di Indonesia.
“Dari sisi expenditure wisatawan mungkin menguntungkan mereka, dengan catatan telah memperhitungkan juga lonjakan harga tiket dan kondisi geopolitik dunia akibat naiknya harga BBM,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, daya beli wisatawan asing otomatis meningkat ketika berlibur ke Bali. Dengan nilai tukar yang lebih tinggi, wisatawan dapat mengeluarkan uang lebih banyak untuk akomodasi, kuliner, hingga aktivitas wisata tanpa terlalu terbebani.
Situasi itu berpotensi membuat wisatawan tinggal lebih lama di Bali sekaligus meningkatkan perputaran uang di sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat lokal.
Namun di balik peluang tersebut, pelaku industri perhotelan ternyata juga menghadapi tantangan serius. Pelemahan rupiah turut berdampak pada naiknya biaya operasional hotel karena masih tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.
“Untuk kita khususnya pelaku usaha perhotelan, naiknya nilai tukar dollar pasti akan meningkatkan biaya produksi kita, karena banyak bahan baku yang merupakan barang impor,” jelasnya.
Tak hanya itu, persaingan antarhotel di Bali yang semakin ketat juga membuat pengusaha tidak bisa sembarangan menaikkan tarif kamar meski biaya operasional terus melonjak.
“Sedangkan untuk menaikkan rate kamar, kita mendapat tekanan dari persaingan competitor kita yang terus berbenah meningkatkan kualitas produk,” tambahnya.
Kini, industri pariwisata Bali berada di persimpangan antara peluang dan tantangan. Di satu sisi, kurs rupiah yang melemah mampu menjadi magnet baru bagi wisatawan asing. Namun di sisi lain, pelaku usaha harus memutar strategi agar tetap mampu menjaga kualitas layanan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
Jika momentum ini mampu dimanfaatkan secara tepat, Bali diperkirakan masih akan menjadi primadona wisata dunia meski ekonomi global sedang bergejolak. (Smty)


Social Header