YOGYAKARTA, Baliberkabar.id— Kelompok Arus Bawah PDI Perjuangan Daerah Istimewa Yogyakarta melontarkan kritik keras terhadap hasil konferda, konfercab, dan muscab yang baru digelar di wilayah tersebut.
Dalam rilis yang diterima redaksi, 4 Mei 2026, mereka menyebut sejumlah keputusan organisasi sarat nuansa nepotisme dan tidak berpijak pada prinsip meritokrasi. Kedekatan personal dan relasi keluarga, menurut kelompok ini, dinilai lebih menentukan dibanding rekam jejak kader.
“Contohnya di PAC Gondokusuman. Ada ketua PAC yang secara objektif belum mampu menjalankan fungsi organisasi, termasuk soal pembentukan anak ranting dan hasil Pileg 2024. Tapi tetap dipertahankan,” kata Eko Yulianto, kader Arus Bawah PDI-P DIY.
Arus Bawah menegaskan, kritik ini bukan pembangkangan. Mereka menyebutnya sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga marwah partai.
“Loyalitas sejati adalah berani meluruskan ketika ada penyimpangan. Membiarkan praktik nepotisme atas nama persatuan justru akan menggerus kepercayaan kader dan rakyat,” tegas Eko.
Merujuk pada nilai Pancasila dan ajaran Soekarno, kelompok ini menilai soliditas partai tidak boleh dibangun di atas pembungkaman. Mereka menuntut ruang kritik dijaga sebagai bagian dari demokrasi internal.
Empat tuntutan yang disampaikan:
1. *Evaluasi menyeluruh* terhadap hasil konferda, konfercab, dan muscab di DIY.
2. *Kaderisasi transparan berbasis kinerja*, bukan kedekatan.
3. *Tolak politik kroni dan ‘ternak politik’*.
4. *Jamin ruang kritik* yang sehat dan bermartabat.
“Lebih baik jujur untuk perbaikan daripada diam dalam penyimpangan,” tutup pernyataan itu.
(D Wahyudi)


Social Header