Breaking News

Laut Bukan Ruang Bebas: Saat ‘Open Access’ Disalahartikan Jadi Hak Merusak

Oleh: I Ketut Wiryadana, (Pendiri Yayasan Banyumilir dan Ketua Pokmaswas Banyumilir).

Setiap tanggal 2 Mei, kita gegap gempita merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Namun, jika kita menengok ke cakrawala laut kita, muncul sebuah tanya besar: Sudahkah pendidikan kita menyentuh kesadaran ekologis paling mendasar? Ataukah literasi kita berhenti di kulit luar, sementara di kedalaman sana, tatanan ekosistem sedang perlahan dihancurkan oleh ego manusia?

Ada sebuah realita pahit yang kerap saya temui di lapangan. Laut memang bersifat open access siapa pun boleh masuk, siapa pun boleh mencari nafkah di sana. Namun, banyak yang menyalahartikan kebebasan akses ini sebagai kebebasan untuk merusak tanpa rasa bersalah.

Ironi di Balik "Akses Terbuka"

Kita masih menyaksikan oknum nelayan yang terjebak dalam pola pikir puluhan tahun silam. Teknik menjaring seperti jaring pukat atau "ngarot" masih saja dipraktikkan, meski dampaknya nyata merusak karang. Pelampung konservasi diputus, karang kecil dipatahkan, hingga ikan-ikan kecil tertangkap dan dibuang begitu saja karena dianggap tak bernilai ekonomi.

Ironisnya, tindakan ini sering dilakukan di wilayah desa lain, termasuk di wilayah yang sedang kami proteksi melalui Yayasan Banyumilir. Ketika upaya persuasif dilakukan, jawaban yang muncul sering kali bernada tinggi dengan ego sektoral yang kental: "Laut ini akses terbuka, siapa pun boleh menangkap!"

Pernyataan ini adalah sebuah cacat logika. Benar laut itu terbuka, namun pertanyaannya: Jika tempat kami rusak, apakah Anda akan berkontribusi memperbaikinya? Faktanya, saat sebuah area pesisir hancur, mereka akan lari mencari area baru yang masih sehat, meninggalkan kerusakan bagi warga lokal. Inilah "buta literasi" yang sesungguhnya pintar menangkap ikan, tapi gagal memahami keberlanjutan.

Bukan Hanya Nelayan: Sebuah Dosa Kolektif

Kita tidak boleh hanya menunjuk hidung nelayan. Egoisme ini merambah ke semua lini pelaku kepentingan laut:

Spearfishing: Para pencari ikan dengan panah yang kerap merusak struktur karang dan mengambil ikan tanpa tebang pilih.

Pelaku Wisata Snorkeling: Menjual keindahan bawah laut tapi membiarkan tamu menginjak karang tanpa edukasi (literasi bahari).

Wisata Dolphin: Aksi kejar-kejaran kapal demi memuaskan tamu tanpa memikirkan stres pada mamalia laut tersebut.

Akomodasi & Limbah: Pemilik hotel atau vila yang acuh terhadap pembuangan limbah, hingga kita sendiri yang masih menelantarkan sampah plastik sembarangan.

Apakah nelayan harus dibatasi areanya? Apakah mereka sulit move on menjadi pelaku wisata karena pola pikir lama? Jawabannya bukan sekadar pembatasan fisik, melainkan pembatasan ego melalui pendidikan karakter.

Pendidikan adalah Solusi Berkelanjutan

Hardiknas harus menjadi momentum untuk menyadari bahwa pendidikan laut bukan hanya milik mereka yang kuliah di jurusan kelautan. Laut adalah tanggung jawab kolektif. Berkelanjutan berarti mengambil manfaat tanpa melupakan hak generasi mendatang. Berkelanjutan berarti memanen tanpa merusak fondasi rumahnya.

Pendidikan sesungguhnya adalah saat seorang nelayan sadar bahwa jaringnya harus ramah lingkungan. Saat pemandu wisata bangga memberikan edukasi kepada tamunya untuk tidak menyentuh karang. Dan saat pemilik akomodasi merasa malu jika limbahnya mencemari rumah bagi para lumba-lumba.

Jika kita masih berteriak "laut akses terbuka" hanya untuk membenarkan perusakan, maka sesungguhnya kita belum benar-benar terdidik. Mari jadikan laut sebagai laboratorium besar bagi peradaban yang lebih bijak. Karena pada akhirnya, laut tidak butuh kita untuk bertahan hidup, tapi kitalah yang tidak bisa hidup tanpa laut yang sehat.


© Copyright 2022 - Bali Berkabar