Breaking News

Tiga N219 Amfibi Dipesan, BIBU Panji Sakti Mulai Bangun Jalur Logistik Laut-Udara dari Bali Utara

BANDUNG, Bali Berkabar – Rencana PT BIBU Panji Sakti mengembangkan jaringan logistik udara berbasis maritim mulai masuk tahap nyata. Setelah sebelumnya baru sebatas nota kesepahaman (MoU), perusahaan kini resmi menandatangani kontrak pembelian tiga unit pesawat N219 Amfibi produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Penandatanganan kontrak berlangsung di kantor PTDI, Bandung, Rabu (26/8/2026). Pengadaan tiga pesawat tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari pengembangan rantai pasok komoditas laut, khususnya untuk menghubungkan wilayah kepulauan dan sentra produksi dengan pasar yang lebih luas.

Langkah tersebut juga dikaitkan dengan rencana pengembangan ekosistem Bandara Internasional Bali Utara di wilayah perairan Kubutambahan, Buleleng.

Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, mengatakan perubahan status kerja sama dari MoU menjadi kontrak menunjukkan bahwa rencana tersebut tidak berhenti pada tataran konsep.

“Ini bukan lagi sekadar rencana. Dengan ditandatanganinya kontrak pembelian, kami masuk ke tahap implementasi,” kata Erwanto.

Menurut dia, kebutuhan terhadap moda transportasi yang mampu menjangkau wilayah kepulauan menjadi penting karena distribusi komoditas perikanan sangat bergantung pada waktu.

Produk seperti ikan segar, tuna kualitas ekspor hingga komoditas laut hidup membutuhkan penanganan dan pengiriman yang cepat. Semakin lama berada dalam rantai distribusi, semakin besar pula potensi penurunan kualitas dan nilai jualnya.

Karena itu, BIBU melihat N219 Amfibi sebagai salah satu pilihan untuk memperpendek jalur distribusi tersebut. Pesawat ini tidak hanya dapat menggunakan landasan darat, tetapi juga dirancang untuk lepas landas dan mendarat di permukaan air.

“Bagi Indonesia, khususnya wilayah timur, kecepatan adalah bagian penting dari nilai ekonomi komoditas laut. Kami membutuhkan moda transportasi yang bisa mendekatkan sentra produksi dengan pasar,” ujarnya.

Kerja sama BIBU Panji Sakti dengan PTDI sebenarnya bukan baru dimulai tahun ini.

Pada Desember 2025, kedua perusahaan telah menandatangani MoU pengadaan tiga unit N219 dengan konfigurasi kargo. Kesepakatan tersebut menjadi awal pembahasan mengenai pemanfaatan pesawat N219 sebagai feeder aircraft untuk mengangkut komoditas laut dari sejumlah wilayah sebelum diteruskan menuju penerbangan dengan kapasitas lebih besar.

Dalam perjalanan kerja sama itu, sejumlah aspek harus dikaji, mulai dari potensi rute, kebutuhan volume angkutan, aspek teknis dan ekonomi hingga pola operasional.

Sekitar delapan bulan kemudian, kerja sama tersebut meningkat menjadi kontrak pembelian.

Tiga N219 itu nantinya akan dioperasikan PT BIBU Agro Maritim, anak usaha PT BIBU Panji Sakti yang fokus pada pengembangan dan pengelolaan rantai pasok komoditas maritim.

Direktur Utama PT BIBU Agro Maritim, Anak Agung Ngurah Alit Kakarsana, mengatakan persoalan distribusi menjadi salah satu tantangan utama dalam perdagangan komoditas perikanan bernilai tinggi.

Menurutnya, komoditas seperti live seafood dan tuna yang diperuntukkan bagi pasar premium membutuhkan sistem logistik yang mampu menjaga kualitas sekaligus memangkas waktu perjalanan.

N219 Amfibi diharapkan dapat menjadi penghubung antara kawasan produksi dengan pusat perdagangan maupun pasar ekspor.

Bagi BIBU, tiga pesawat tersebut bukan sekadar penambahan armada. Pengadaan N219 Amfibi ditempatkan dalam konsep yang lebih besar, yakni membangun konektivitas laut dan udara untuk mendukung ekonomi biru.


Konsep itu juga menjadi bagian dari blueprint pengembangan Bandara Internasional Bali Utara di kawasan Kubutambahan, Buleleng.

Dengan kemampuan beroperasi dari darat maupun air, N219 Amfibi dinilai memiliki karakter yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Pesawat tersebut memiliki kapasitas hingga 19 penumpang dan dapat dikonfigurasi untuk berbagai kebutuhan, termasuk angkutan kargo, evakuasi medis, patroli maritim serta pencarian dan pertolongan atau SAR.

Bagi sektor perikanan, kemampuan tersebut membuka kemungkinan pengangkutan komoditas dari kawasan pesisir yang belum memiliki infrastruktur landasan pesawat konvensional.

Erwanto mengatakan tujuan akhirnya bukan hanya memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi menciptakan rantai distribusi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil laut.

“Kami ingin nelayan dan pelaku usaha perikanan mendapatkan nilai tambah yang lebih besar. Jangan sampai produk yang memiliki kualitas ekspor kehilangan nilainya hanya karena persoalan distribusi,” katanya.

Di sisi lain, kontrak dengan BIBU menjadi bagian dari upaya PTDI memperluas penggunaan N219 di pasar domestik.

Sebelumnya, pada Mei 2026, PTDI menandatangani kontrak penjualan empat unit N219 dengan PT Mitra Aviasi Perkasa untuk mendukung kebutuhan angkutan kargo di wilayah perintis.

Direktur Utama PTDI Marsda TNI (Purn.) Gita Amperiawan mengatakan perkembangan pasar N219 penting bagi keberlanjutan industri pesawat nasional.

Menurutnya, keberhasilan sebuah produk dirgantara tidak hanya diukur dari kemampuan teknologinya, tetapi juga dari sejauh mana pesawat tersebut mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

“Kontrak ini menunjukkan bahwa N219 bukan hanya sebuah produk teknologi, tetapi mulai menjadi solusi nyata bagi kebutuhan konektivitas Indonesia,” kata Gita.

Ia menilai karakter geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau membutuhkan pilihan transportasi yang fleksibel, terutama untuk daerah terpencil dan wilayah dengan keterbatasan infrastruktur.

Kerja sama dengan sektor swasta, lanjut Gita, juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri dirgantara nasional. Produsen pesawat, operator, pengguna jasa, pemerintah dan dunia usaha dinilai perlu terhubung dalam satu rantai nilai.

Dengan ditandatanganinya kontrak tiga N219 Amfibi tersebut, kerja sama BIBU Panji Sakti dan PTDI kini memasuki fase berbeda.

Jika pada 2025 hubungan kedua perusahaan masih berada pada tahap penjajakan dan kajian, maka pada 2026 rencana tersebut mulai diwujudkan melalui pengadaan armada.

Tiga N219 Amfibi itu selanjutnya diproyeksikan menjadi salah satu simpul jaringan logistik laut-udara yang menghubungkan Bali dengan kawasan Indonesia Timur, sekaligus membuka jalur distribusi komoditas laut menuju pasar domestik dan internasional.

Bagi BIBU, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memiliki pesawat, melainkan memastikan armada tersebut dapat terintegrasi dengan sentra produksi, pelabuhan, bandara, pasar dan rantai ekspor sehingga konsep konektivitas laut-udara benar-benar memberikan dampak ekonomi.

Sementara bagi PTDI, bertambahnya kontrak N219 menunjukkan bahwa pesawat buatan dalam negeri tersebut mulai diarahkan untuk mengisi kebutuhan transportasi yang spesifik dengan karakter geografis Indonesia. (Duk)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar