Breaking News

Politisi Golkar Dorong Gerakan Nasional Pemenuhan Dan Pemerataan Guru, Berjalan Pararel Dengan Program MBG

Mozes Rudy F. Timisela, ST.: "Jangan sampai piring anak terisi, tetapi kelas kekurangan guru"


JAKARTA, Baliberkabar.id -
 Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dibarengi dengan pemenuhan dan pemerataan guru di seluruh Indonesia. Keduanya disebut sebagai investasi yang tidak bisa dipisahkan untuk masa depan anak bangsa.

Hal itu disampaikan Mozes Rudy F. Timisela, ST, Politisi Partai Golkar sekaligus Ketua Bidang Penggalangan Depinas SOKSI, menanggapi langkah Pemerintah Pusat di bawah Presiden Prabowo Subianto yang menjadikan MBG sebagai program prioritas peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Jangan sampai anak-anak Indonesia gizinya baik, tetapi kekurangan guru untuk mengajar. Anak yang sehat harus mendapatkan pendidikan yang baik agar mampu menjadi generasi unggul,” ujar Mozes dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/8).

MBG dan Guru, Dua Sisi Investasi Masa Depan
Menurut Mozes, MBG adalah investasi penting bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Namun tanpa guru yang cukup, berkualitas, dan merata, dampak program tersebut tidak akan optimal.

“MBG memastikan anak sehat dan siap belajar. Guru memastikan anak mendapatkan pembelajaran. Keduanya merupakan investasi yang tidak dapat dipisahkan. Kita membutuhkan anak Indonesia yang sehat sekaligus cerdas,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar tidak terjadi kondisi “piring anak terisi, tetapi kelas kekurangan guru”. Karena itu, Golkar mendorong agar program peningkatan gizi anak dan pemenuhan guru dijalankan secara bersama-sama dan terintegrasi.

Dorong Gerakan Nasional Pemenuhan dan Pemerataan Guru
Untuk menjawab tantangan tersebut, Mozes mengusulkan adanya Gerakan Nasional Pemenuhan dan Pemerataan Guru yang berjalan paralel dengan MBG. Gerakan ini tidak hanya fokus pada sertifikasi dan peningkatan kompetensi guru yang sudah mengajar, tetapi juga menjawab kebutuhan guru baru.

Beberapa poin penting yang disorot:
- Pemetaan kebutuhan guru secara nasional berdasarkan jumlah anak usia sekolah, jumlah sekolah, jenjang pendidikan, mata pelajaran, perkembangan penduduk, dan karakteristik wilayah.
- Proyeksi kebutuhan guru 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan agar kebijakan pendidikan tidak bersifat jangka pendek.
- Penguatan kapasitas LPTK untuk menghasilkan calon guru sesuai kebutuhan nasional.

“Pembangunan kualitas manusia harus menjadi agenda strategis nasional yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Mozes.


Mozes menilai keberhasilan MBG akan semakin besar dampaknya apabila diikuti dengan penguatan sistem pendidikan dan pemerataan tenaga pendidik di seluruh Indonesia.

“Anak Indonesia jangan hanya kenyang hari ini. Mereka harus sehat untuk belajar, memiliki guru untuk mendidik, dan memperoleh pendidikan yang berkualitas untuk menentukan masa depan bangsa,” tutup Mozes.(DW)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar