Breaking News

Petani Enau Silangjana Olah Nira Jadi Tuak Manis, Gula Aren hingga Gula Semut

Seorang petani enau memanjat pohon aren untuk mengambil nira yang kemudian diolah menjadi tuak manis, gula aren, dan gula semut di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Buleleng.

BULELENG, Bali Berkabar — Potensi pertanian dan perkebunan di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, mulai dikembangkan warga menjadi produk bernilai ekonomi. Salah satunya melalui pemanfaatan nira dari pohon enau atau jaka yang diolah menjadi tuak manis, gula aren, hingga gula semut.

Desa Silangjana berada di wilayah dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 400–500 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis tersebut membuat karakter pertanian masyarakat di wilayah desa terbagi dalam dua kawasan.

Perbekel Silangjana Komang Suparma mengatakan, wilayah bawah yang dikenal sebagai Banjar Dinas Delod Margi lebih banyak didominasi areal persawahan. Sementara wilayah atas, Banjar Dinas Dajan Margi, mayoritas masyarakatnya bergerak di sektor perkebunan.

Komoditas yang dikembangkan warga di antaranya cengkeh, durian, manggis dan pohon enau.

“Di wilayah Dajan Margi memang banyak masyarakat yang menggeluti perkebunan, termasuk memanfaatkan pohon enau atau jaka,” kata Suparma saat ditemui di kantornya, Jumat (2/10/2026).

Potensi enau tersebut kemudian dikembangkan warga melalui kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Saat ini terdapat dua kelompok UMKM dengan anggota masing-masing sekitar 30 hingga 40 orang.

Suparma menyebut sekitar 25 persen warga di Banjar Dinas Dajan Margi terlibat sebagai pengrajin gula aren.

Dari nira enau, masyarakat menghasilkan tiga produk utama, yakni tuak manis, gula aren dan gula semut. Produk tersebut tidak hanya dipasarkan untuk kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga mulai dikenal konsumen dari luar Desa Silangjana.

“Kalau masyarakat pernah datang pada acara pasar pangan lokal di Singaraja, mungkin sering menjumpai tuak manis dan gula aren. Itu produk dari kelompok UMKM kami,” ujarnya.

Menurut Suparma, permintaan terhadap tuak manis dan gula aren cukup baik. Bahkan, sejumlah konsumen dari luar desa disebut sengaja datang langsung ke Silangjana untuk mendapatkan produk tersebut.

Sementara gula semut memiliki pola produksi yang berbeda. Produk tersebut tidak dibuat setiap hari, melainkan disesuaikan dengan permintaan konsumen. Salah satu pasar yang cukup dominan berasal dari sektor perhotelan.

Meski mulai memiliki pasar, pengembangan UMKM olahan nira enau di Silangjana masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya terkait kemasan dan pemasaran yang masih terbatas pada pasar konvensional.

Pemerintah Desa Silangjana berharap pemasaran produk tersebut ke depan dapat diperluas melalui digitalisasi, baik dengan memanfaatkan website maupun media sosial.

Selain pemasaran, penguatan merek atau branding serta aspek legalitas produk juga dinilai penting agar produk olahan nira enau Silangjana memiliki nilai tambah dan mampu menembus pasar yang lebih luas.

“Harapan kami produk lokal ini bisa dibantu melalui digitalisasi pemasaran, penguatan branding, serta legalitas hak paten produk,” kata Suparma.

Di sisi lain, pengembangan produk enau juga diiringi upaya menjaga keberlangsungan tanaman. Pemerintah Desa Silangjana telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk BKAD Buleleng dan PDAM Kabupaten Buleleng, dalam penyediaan bibit pohon enau.

Bibit tersebut kemudian didistribusikan kepada masyarakat untuk dibudidayakan kembali.

Menurut Suparma, keberlanjutan tanaman enau menjadi bagian penting dari pengembangan ekonomi warga. Sebab, semakin berkembangnya produk olahan nira harus diimbangi dengan ketersediaan bahan baku.

“Kami berharap adanya sinergi dan dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Buleleng, khususnya dalam memfasilitasi perluasan pasar melalui digitalisasi, penguatan merek atau branding, serta legalitas produk, guna mendongkrak kesejahteraan dan perekonomian warga Desa Silangjana,” pungkasnya. (Hms)

Editor: Gede Sumertayasa, S.H.
© Copyright 2022 - Bali Berkabar