Breaking News

Dari Singaraja hingga Busungbiu, Semarak Ogoh-Ogoh Jelang Nyepi Menggema, Aksi Ibu-Ibu di Pelapuan Jadi Sorotan

Foto: para ibu mengarak ogoh-ogoh mengelilingi desa Pelapuan.

BULELENG, Baliberkabar.id – Menjelang malam pengerupukan dalam rangka Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1448, suasana di wilayah Bali Utara mulai terasa semakin hidup. Sepanjang jalur dari Kota Singaraja menuju Pantai Lovina, kemudian ke Seririt hingga Busungbiu, geliat persiapan ogoh-ogoh tampak di berbagai titik.

Sejumlah ogoh-ogoh mulai dikeluarkan dari tempat pembuatannya dan ditempatkan di pinggir jalan maupun lapangan terbuka. Para pemuda terlihat sibuk merapikan posisi ogoh-ogoh, sementara anak-anak dan masyarakat sekitar turut meramaikan suasana dengan penuh antusias, menandai semakin dekatnya prosesi pengerupukan.

Di wilayah Seririt, arak-arakan ogoh-ogoh dimulai sekitar pukul 17.00 WITA. Pengarakan ogoh-ogoh melibatkan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga pemuda yang tampak bersemangat untuk berpartisipasi.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, arus lalu lintas sempat mengalami kepadatan di jalur utama yang dilalui oleh arak-arakan ogoh-ogoh. Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak menyebabkan kemacetan yang parah, dan kendaraan masih dapat melintas dengan perlahan.

Semakin sore, aktivitas kian meningkat. Di wilayah Busungbiu, sekitar pukul 15.00 WITA, ogoh-ogoh telah ditempatkan di sepanjang jalur utama. Tercatat sebanyak 25 ogoh-ogoh dipersiapkan oleh masyarakat dengan beragam ukuran, mulai dari kecil hingga besar. 

Keadaan ini menyebabkan salah satu jalur jalan ditutup karena badan jalan dipenuhi ogoh-ogoh, sehingga kendaraan roda empat dan sejenisnya tidak dapat melintas. Meski demikian, arus lalu lintas tetap berjalan lancar karena masyarakat setempat telah mengalihkan kendaraan ke jalur alternatif.

Di Busungbiu, pengerupukan dimulai pukul 16.30 WITA dan berakhir pukul 21.00 WITA. Dalam prosesnya, masyarakat tumpah ruah memadati sepanjang jalan untuk menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh. Mereka tampak antusias saat ogoh-ogoh yang lewat menampilkan atraksi seperti berputar, menari, serta gerakan unik dan menghibur.

Warga Busungbiu, Jro Mika, yang turut mengikuti acara pengerupukan menyatakan apresiasinya terhadap kreativitas generasi muda dalam pembuatan ogoh-ogoh yang dinilai semakin berkembang setiap tahunnya.

Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam pengerupukan menjadi hal positif dalam menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan yang sarat makna dan nilai sakral.

“Kalau dilihat sekarang, kreativitas anak-anak muda sangat tinggi dalam membuat ogoh-ogoh. Ini bagus, artinya mereka mulai menanamkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaga tradisi keagamaan,” ujarnya.

Namun demikian, Mika juga menyayangkan masih adanya penggunaan musik modern bernuansa hiburan dalam iringan arak-arakan ogoh-ogoh.

Menurutnya, hal tersebut berpotensi mengurangi nilai sakral dari prosesi pengerupukan yang sejatinya merupakan bagian dari ritual keagamaan.

“Masih ada yang menggunakan musik seperti dugem saat pengarakan. Ini dikhawatirkan justru lebih menonjolkan euforia hiburan, padahal pengerupukan itu bagian dari upacara yang sakral,” tambahnya.

Foto: salah satu Ogoh-ogoh di Desa Busungbiu.

Sementara itu, di Desa Pelapuan, Kecamatan Busungbiu, prosesi pengerupukan dilaksanakan mulai pukul 18.00 WITA dan berlangsung meriah dengan melibatkan berbagai kalangan masyarakat. Rangkaian kegiatan diawali oleh anak-anak sekolah dasar yang berkeliling desa sambil membawa obor tradisional, menciptakan suasana hangat dan penuh keceriaan.

Arak-arakan dimulai dari depan kantor kepala desa, kemudian dilanjutkan oleh kalangan muda-mudi bersama masyarakat dewasa yang mengusung ogoh-ogoh berkeliling desa, diiringi tabuh baleganjur yang menggema di sepanjang jalur yang dilalui.

Di tengah rangkaian tersebut, peran ibu-ibu menjadi sorotan yang memberikan warna tersendiri dalam pengerupukan di Desa Pelapuan. 

Dengan semangat yang kuat, para ibu-ibu tidak hanya ikut serta, tetapi juga mengambil peran penting dalam berbagai lini prosesi. Mereka turut mengusung ogoh-ogoh dengan langkah mantap, berjalan beriringan dalam ritme arak-arakan.

Sebagian lainnya membawa obor tradisional dari bambu dengan sumbu serat kelapa yang menyala, menambah nuansa sakral di sepanjang perjalanan. Bahkan, iringan tabuh baleganjur turut dimainkan oleh kelompok ibu-ibu dengan penuh kekompakan dan energi, menghadirkan dentuman ritme yang kuat dan penuh penghayatan.

Perpaduan antara gerak ogoh-ogoh, cahaya obor, dan irama baleganjur menciptakan suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat makna dan kekhusyukan.

Selain arak-arakan, kegiatan juga diisi dengan pementasan sendratari yang mengangkat kisah dari epos Mahabharata, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Dalam salah satu adegan, seorang penari sempat mengalami kondisi tidak sadar atau trance saat membawakan peran, yang semakin memperkuat nuansa sakral dalam rangkaian prosesi tersebut.

Di tengah kemeriahan tersebut, kehadiran masyarakat sebagai penonton turut menambah semarak suasana. Salah satunya Ketut Nopi Prismadewi, seorang ibu rumah tangga yang mendampingi anaknya mengikuti pengerupukan.

Pertunjukan sendratari yang diadakan di pertigaan jalan desa Pelapuan berlangsung bersamaan dengan kegiatan penggerupukan.

Ia mengaku senang karena anaknya yang masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar dapat ikut berpartisipasi dalam tradisi tersebut.

“Saya sangat senang anak saya bisa ikut terlibat dalam pengerupukan di desa. Ini pengalaman yang bagus untuk dia sejak kecil,” ujarnya.

Ia mengatakan, dirinya sengaja mendampingi langsung sang anak yang membawa obor tradisional guna memastikan keselamatan selama mengikuti arak-arakan.

“Saya ikut mengawasi karena anak saya masih kecil, apalagi membawa obor. Jadi harus tetap didampingi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Nopi.

Menurutnya, suasana pengerupukan tahun ini terasa semakin meriah dan membahagiakan, terutama dengan keterlibatan berbagai kalangan masyarakat.

Ia juga mengaku bangga melihat peran aktif kaum perempuan dalam prosesi tersebut. “Melihat ibu-ibu ikut mengusung ogoh-ogoh, membawa obor, hingga menabuh baleganjur itu sungguh luar biasa. Ini menunjukkan bahwa perempuan juga dapat diandalkan dalam berbagai kegiatan,” ujarnya.

Untuk memastikan seluruh rangkaian berjalan tertib dan aman, aparat keamanan turut terlibat aktif di lapangan. Personel TNI melalui Babinsa, Polri melalui Bhabinkamtibmas, serta Pecalang desa setempat bersinergi mengatur arus lalu lintas, menertibkan penonton, serta mengarahkan kendaraan yang melintas.

Secara keseluruhan, prosesi pengerupukan berlangsung lancar, tertib, dan aman. Masyarakat mengikuti setiap tahapan dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan sebagai bagian dari persiapan menyambut Hari Raya Nyepi.

Tradisi pengerupukan sendiri merupakan bagian penting dari rangkaian Nyepi, sebagai simbol pembersihan unsur negatif (bhuta kala) sebelum memasuki hari suci yang dipenuhi keheningan. (Smty)

© Copyright 2022 - Bali Berkabar