Buleleng, Baliberkabar.id — Insiden perkelahian yang diduga akibat kesalahpahaman hingga berujung penebasan antar warga terjadi di wilayah Buleleng saat pelaksanaan Hari Raya Nyepi, memicu keprihatinan mendalam dari pihak desa adat setempat.
Menanggapi peristiwa tersebut, Jro Putu Suparma selaku Bendesa Adat Joanyar Kajanan menyampaikan bahwa kejadian ini menjadi evaluasi serius, mengingat terjadi pada momentum sakral yang seharusnya dijalani dengan penuh ketenangan, introspeksi diri, dan pengendalian diri (brata penyepian).
“Peristiwa ini tentu sangat kami sesalkan, terlebih lagi terjadi pada hari suci Nyepi yang seharusnya dijalani dengan suasana hening dan damai. Kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat atas kejadian yang sempat menjadi perhatian publik,” ujar Jro Putu Suparma saat dikonfirmasi di kediamannya, Jumat (20/3/2026).
Lebih lanjut disampaikan, pihak desa adat akan segera melakukan koordinasi dan musyawarah dengan para pemangku, prajuru desa adat, serta lembaga terkait guna menentukan langkah-langkah penanganan secara adat maupun sosial.
Salah satu langkah yang direncanakan adalah pelaksanaan upacara guru piduka, sebagai bentuk permohonan maaf secara niskala atas terjadinya insiden yang dinilai mencederai kesakralan hari raya.
“Upacara guru piduka sangat penting sebagai bentuk penyucian dan permohonan maaf. Namun, pelaksanaannya masih akan kami bahas bersama para pemangku dan lembaga adat, apakah dilaksanakan dalam lingkup keluarga atau secara lebih luas melibatkan desa adat,” jelasnya.
Ia menambahkan, dampak dari kejadian ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga menyangkut keseimbangan sekala dan niskala di lingkungan desa, terlebih karena terjadi dalam konteks hari raya keagamaan.
Selain itu, pihak desa adat menegaskan bahwa ke depan akan dilakukan evaluasi menyeluruh serta penguatan pembinaan kepada masyarakat guna mencegah terulangnya kejadian serupa.
“Kami akan melakukan evaluasi dan dialog bersama seluruh elemen masyarakat desa. Harapannya, kejadian ini menjadi yang terakhir dan menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk lebih menjaga keharmonisan, khususnya dalam momentum hari suci,” tegasnya.
Diketahui, dalam insiden tersebut, pelaku dan korban merupakan kerabat dekat, yang menambah kompleksitas persoalan baik dari sisi kekeluargaan maupun adat.
Pihak desa adat berharap seluruh masyarakat tetap menjaga kondusivitas serta menyerahkan penanganan lebih lanjut kepada pihak berwenang, sembari tetap mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal dan penyelesaian secara adat.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, peristiwa ini bermula saat suasana Hari Raya Nyepi di wilayah Buleleng yang seharusnya berlangsung hening, justru terganggu oleh konflik antar dua warga yang masih memiliki hubungan keluarga dekat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden tersebut diduga dipicu oleh kesalahpahaman saat keduanya tengah mengonsumsi minuman keras, yang kemudian berujung pada perkelahian hingga terjadi aksi penebasan. (Smty)


Social Header