BULELENG, Baliberkabar.id – Sebuah rumah milik pasangan lansia di Desa Pelapuan, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, akhirnya roboh setelah lebih dari 15 tahun berada dalam kondisi lapuk dan tidak layak huni.
Rumah tersebut milik Dewa Made Pindu (65) dan istrinya, Desak Made Yasmini (65), yang selama ini bertahan hidup di tengah bangunan yang terus mengalami kerusakan parah tanpa perbaikan berarti.
Peristiwa robohnya rumah itu terjadi pada Rabu, 6 Mei 2026 sekitar pukul 00.30 WITA. Sebelum ambruk, kondisi bangunan memang sudah sangat mengkhawatirkan dengan rangka kayu yang lapuk, genteng berjatuhan, serta beberapa bagian rumah yang ditopang kayu seadanya agar tidak roboh.
Namun saat kejadian, pasangan lansia tersebut beruntung tidak tertimpa reruntuhan karena sedang berada di bagian depan rumah yang masih beratapkan seng, meski bagian itu juga sudah dalam kondisi sangat rapuh dan berpotensi ikut ambruk.
Dewa Made Pindu mengaku sebelum rumahnya roboh, ia sempat mendengar suara dari dalam bangunan yang terdengar seperti suara hewan kecil berlarian. Bahkan ia sempat mengira terjadi getaran seperti gempa kecil.
“Di dalam saya dengar seperti suara kucing kejar tikus, sempat saya kira gempa kecil. Tapi tidak lama kemudian, tiba-tiba atap langsung roboh,” ungkapnya dengan suara lirih dan masih tampak syok.
Peristiwa itu terjadi sangat cepat dan mengejutkan, hingga membuat dirinya dan sang istri menangis serta terpukul atas musibah yang terjadi di pagi buta tersebut.
Akibat kejadian itu, seluruh perabotan dapur ikut tertimpa reruntuhan bangunan. Hanya tersisa beberapa piring, sendok makan, dan beberapa gelas yang masih bisa digunakan. Sementara sebagian besar barang lainnya rusak dan tertimbun material bangunan.
Foto: Dewa Made Pindu (65) dan istrinya, Desak Made Yasmini (65), yang selama ini bertahan hidup di tengah bangunan yang terus mengalami kerusakan parah tanpa adanya perbaikan.
Lebih dari 15 tahun, kondisi rumah tersebut terus dibiarkan dalam keadaan memprihatinkan. Menurut penuturan keluarga, rumah itu sudah beberapa kali didata untuk rencana bantuan, namun hingga kini belum pernah terealisasi.
“Sudah sering ada yang datang lihat, foto, minta KTP dan KK, katanya mau dibantu… tapi sampai sekarang belum ada,” ujar Desak Made Yasmini dengan nada pasrah.
Kepala Dusun Banjar Satria, Desa Pelapuan, Dewa Made Superman, membenarkan kondisi warganya tersebut dan menyebut pihak desa sudah berulang kali mengajukan permohonan bantuan.
“Memang benar kondisi rumah warga kami seperti itu. Kami sudah ajukan bantuan, tapi sampai saat ini belum ada realisasi,” ungkapnya.
Ia juga berharap adanya perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga, maupun donatur, untuk dapat membantu penanganan rumah warga yang kini sudah roboh tersebut.
Kini, pasangan lansia itu hanya bisa pasrah menjalani hidup di tengah kondisi darurat, setelah dua anak mereka telah lebih dulu meninggal dunia. Untuk bertahan hidup, Desak Made Yasmini menjual canang, sementara Dewa Made Pindu bekerja sebagai penyakap dan buruh harian dengan penghasilan tidak menentu.
Kondisi ini menjadi potret nyata rapuhnya hunian warga lanjut usia di pedesaan, yang hingga kini masih menunggu perhatian dan tindakan nyata dari berbagai pihak terkait. (Smty)


Social Header