Foto: Patung Lumba-lumba dan suasana di Pantai Lovina menjelang Hari Raya Nyepi.
BULELENG, Baliberkabar.id – Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1448 dan Idul Fitri 1445 Hijriah, salah satu destinasi wisata di Bali Utara, yaitu Pantai Lovina, terpantau sepi. Tingkat hunian akomodasi di kawasan tersebut dilaporkan mengalami penurunan hingga sekitar 25 persen.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu, 19 Maret 2026, sekitar pukul 13.30 WITA, suasana di Pantai Lovina terlihat relatif sepi. Hanya beberapa wisatawan tampak berjalan di pesisir pantai, sementara sebagian lainnya duduk santai di restoran sekitar kawasan wisata menikmati semilir angin laut.
Kondisi ini diperkuat hasil wawancara dengan pelaku usaha pariwisata setempat. Ketut Raga Asih, staf hotel dan restoran di Sea Breeze Lovina, menyampaikan bahwa tingkat okupansi menjelang Nyepi tahun ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tingkat hunian saat ini hanya sekitar 25 persen, Pak. Kalau tahun lalu masih bisa mencapai 50 persen,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Ia menjelaskan, penurunan tersebut dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya periode low season serta belum masuknya masa liburan wisatawan. Selain itu, rangkaian Hari Raya Nyepi juga turut memengaruhi pergerakan wisatawan yang cenderung menunda perjalanan.
Meski demikian, pihak pengelola tetap memberikan edukasi kepada para tamu yang menginap terkait aturan selama Nyepi, mengingat selama 24 jam tidak diperkenankan adanya aktivitas di luar.
“Kami memberikan arahan kepada tamu untuk tidak keluar dan tidak melakukan aktivitas mencolok. Untuk kebutuhan makan, kami tetap siapkan layanan terbatas dengan satu karyawan yang bertugas,” jelasnya.
Foto: Ketut Raga Asih, staf hotel dan restoran di Sea Breeze, serta Kadek Dodi Darma Jaya, Supervisor di restoran Spive Beach.
Hal serupa disampaikan Kadek Dodi Darma Jaya, Supervisor di restoran Spive Beach Lovina, yang juga mengakui adanya penurunan kunjungan wisatawan pada periode Maret tahun ini.
“Untuk bulan Maret ini, kunjungan belum seramai tahun lalu. Belum ada peningkatan yang signifikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pihak restoran secara konsisten memberikan imbauan kepada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, agar mematuhi aturan yang berlaku selama Hari Raya Nyepi.
“Kami selalu menginformasikan kepada tamu terkait larangan aktivitas selama Nyepi. Ini rutin kami lakukan setiap tahun,” ujarnya.
Selain itu, pihak pengelola juga melakukan langkah antisipasi menjelang malam pengerupukan dengan mengatur mobilitas tamu agar kembali ke tempat menginap lebih awal.
“Tamu kami arahkan untuk kembali ke villa sebelum pukul 22.00 WITA, guna menghindari kemacetan dan memastikan mereka sudah berada di tempat saat Nyepi dimulai,” jelasnya.
Untuk operasional, restoran tersebut juga menyesuaikan jam layanan dengan menutup lebih awal demi menjaga keamanan dan menghormati pelaksanaan Nyepi.
“Kami tutup lebih awal, sekitar pukul 23.00 WITA sudah selesai operasional, karena besok selama 24 jam tidak ada aktivitas,” tambahnya.
Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu yang sarat akan nilai spiritual. Nyepi dimaknai sebagai momentum introspeksi diri melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yakni tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).
Melalui keheningan total selama 24 jam, umat Hindu diajak untuk menyucikan diri serta menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. (Smty)


Social Header