Breaking News

Kasus DBD Meningkat di Buleleng, Jentik Ditemukan di Permukiman Padat


Buleleng, Baliberkabar.id – Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Buleleng mulai mengkhawatirkan. Temuan jentik nyamuk di sejumlah titik permukiman padat memperkuat indikasi terjadinya penularan lokal yang aktif di tengah masyarakat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng bergerak cepat. Begitu laporan kasus masuk, tim penyelidik epidemiologi langsung turun ke lapangan melakukan penelusuran. Hasilnya, jentik nyamuk ditemukan di beberapa lokasi sekitar tempat tinggal pasien.

Kepala Dinkes Buleleng, Sucipto, menegaskan bahwa temuan tersebut menjadi sinyal serius adanya potensi penyebaran yang lebih luas jika tidak segera ditangani secara menyeluruh.
“Setiap laporan langsung kami tindak lanjuti dengan penyelidikan epidemiologi. Dari hasil pemeriksaan di lapangan, memang ditemukan titik-titik jentik,” ujarnya, Selasa (14/4).

Petugas kemudian menyisir rumah warga di sekitar lokasi kasus untuk memastikan sumber perkembangbiakan nyamuk dapat dikendalikan. Langkah darurat seperti fogging selektif juga dilakukan, namun Dinkes menegaskan bahwa metode ini bukan solusi utama.

Menurut Sucipto, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyentuh fase jentik yang justru menjadi akar masalah.

“Fogging itu hanya sementara. Yang paling efektif tetap pemberantasan sarang nyamuk. Kalau jentik masih ada, siklus penularan tidak akan terputus,” tegasnya.

Di lapangan, kondisi lingkungan masih menjadi tantangan. Kepadatan permukiman, genangan air yang dibiarkan, hingga tumpukan sampah menjadi faktor utama yang memicu berkembangnya jentik nyamuk pembawa virus dengue.

Data Dinkes mencatat, hingga 9 April 2026 sudah terdapat 109 kasus DBD di Buleleng sejak awal tahun. Kecamatan Gerokgak menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, disusul Kecamatan Buleleng, Kubutambahan, Tejakula, dan Sukasada. Sementara empat kecamatan lainnya masih belum melaporkan kasus.

Situasi ini mendorong Dinkes untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, terutama dalam mengenali gejala awal DBD. Demam tinggi lebih dari tiga hari, muncul bintik merah, mual, muntah, hingga mimisan menjadi tanda yang tidak boleh diabaikan.

Warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala tersebut, guna mencegah kondisi yang lebih serius.

Selain itu, seluruh puskesmas dan fasilitas layanan kesehatan diinstruksikan untuk mempercepat pelaporan kasus. Setiap temuan harus segera dilaporkan agar tim surveilans bisa melakukan penelusuran maksimal dalam waktu 24 jam.

“Kecepatan laporan sangat menentukan. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang mencegah penyebaran lebih luas,” tutupnya. (Smty)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar