Foto: Tangkapan layar video yang beredar di media sosial memperlihatkan ibu dari salah seorang tersangka kasus dugaan pengeroyokan di Baturiti didampingi menantu dan cucunya. Dalam video tersebut, ia menyampaikan curahan hati mengenai kondisi keluarganya sejak anaknya menjalani proses hukum. (Istimewa)

TABANAN/BULELENG, Bali Berkabar – Kasus dugaan pengeroyokan yang menewaskan IKD alias S, warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban. Di balik perhatian publik yang terus mengalir kepada keluarga korban, keluarga para tersangka juga mengaku menghadapi beban sosial dan ekonomi sejak proses hukum bergulir.

Peristiwa ini menjadi perhatian luas setelah video yang memperlihatkan tangisan histeris anak korban saat prosesi pemakaman ayahnya viral di berbagai media sosial. Sejak saat itu, gelombang kepedulian terus berdatangan dari masyarakat, para dermawan, tokoh politik, yayasan sosial, instansi pemerintah, komunitas, hingga kreator konten dari dalam maupun luar negeri.

Bantuan yang diberikan pun beragam, mulai dari uang tunai, kebutuhan pokok, bantuan pendidikan bagi anak-anak korban, hingga berbagai bentuk dukungan lainnya sebagai wujud empati terhadap keluarga yang ditinggalkan.

Berdasarkan pantauan Bali Berkabar dari berbagai penyaluran bantuan yang telah dipublikasikan, nilai bantuan yang diterima keluarga korban diperkirakan telah mencapai ratusan juta rupiah dan berpotensi terus bertambah seiring masih berdatangannya bantuan dari berbagai pihak. Namun, hingga saat ini belum terdapat data atau perhitungan resmi mengenai total keseluruhan bantuan yang telah diterima keluarga korban.

Namun di balik besarnya perhatian kepada keluarga korban, terdapat sisi lain yang juga menyita perhatian, yakni kondisi keluarga para tersangka yang kini menjalani proses hukum.

Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan curahan hati ibu dari salah seorang tersangka. Dalam video tersebut, ia didampingi menantunya dan menceritakan kondisi keluarganya setelah anaknya ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan pengeroyokan.

Berdasarkan isi video yang beredar, ibu tersebut menyampaikan bahwa sebelum peristiwa pengeroyokan terjadi sempat terjadi ketegangan di lokasi. Menurut penuturannya, korban yang saat itu diduga melakukan pencurian ayam sempat melakukan perlawanan. Ia juga menyebut korban diduga membawa senjata tajam sehingga membuat anaknya memilih menyelamatkan diri sambil meminta pertolongan kepada anggota keluarga dan warga sekitar.

Dalam video itu pula, ibu tersebut mengaku prihatin terhadap kondisi keluarga anaknya. Menurutnya, anaknya yang telah berkeluarga memiliki seorang istri dan dua anak yang masih kecil. Sejak menjalani proses hukum, keluarga mereka mengaku mengalami kesulitan ekonomi karena kehilangan sumber penghasilan.

Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa apabila saat itu anaknya tidak menyelamatkan diri, situasi yang terjadi bisa saja berakibat lebih buruk. Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi yang disampaikan dalam video yang beredar di media sosial.

Bali Berkabar belum dapat memverifikasi secara independen seluruh pernyataan yang disampaikan dalam video tersebut. Keterangan itu merupakan penyampaian dari pihak keluarga tersangka, sementara penyidik kepolisian masih terus mendalami seluruh rangkaian peristiwa berdasarkan alat bukti dan keterangan para saksi.

Sementara itu, berdasarkan keterangan resmi kepolisian, korban diketahui pernah terlibat perkara pencurian pada tahun 2018. Informasi tersebut merupakan bagian dari data yang disampaikan kepolisian dan tidak berkaitan dengan pembuktian perkara dugaan pengeroyokan yang kini sedang ditangani.

Hingga saat ini, Polres Tabanan telah menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam perkara dugaan pengeroyokan tersebut. Kelima tersangka kini menjalani penahanan untuk kepentingan penyidikan.

Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik memeriksa sedikitnya 18 orang saksi serta mengumpulkan berbagai alat bukti. Selain itu, penyidik juga telah melakukan ekshumasi dan autopsi terhadap jenazah korban guna melengkapi pembuktian ilmiah dalam perkara tersebut.

Polres Tabanan menegaskan proses penyidikan masih terus berlangsung. Penyidik masih mendalami seluruh rangkaian peristiwa, termasuk peran masing-masing tersangka, untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai kejadian tersebut.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sebuah perkara pidana dapat meninggalkan dampak yang luas. Di satu sisi, ada keluarga korban yang kehilangan sosok ayah dan tulang punggung keluarga. Di sisi lain, keluarga para tersangka juga menghadapi konsekuensi sosial dan ekonomi akibat proses hukum yang sedang berjalan.

Pada akhirnya, seluruh fakta dalam perkara ini diharapkan dapat terungkap melalui proses hukum yang objektif, sehingga memberikan kepastian hukum, keadilan, dan kepastian bagi semua pihak. (Red)