Buleleng, Bali Berkabar - Temuan lima kasus demam berdarah dengue (DBD) di Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, mendorong dilakukannya fogging di Dusun Dajan Margi, Minggu (5/7). Pengasapan menyasar 11 rumah di sekitar lokasi warga yang terjangkit sebagai langkah awal menekan penyebaran penyakit.
Fogging dilakukan oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) Loyalis Dokter Caput setelah pemerintah desa mengajukan permohonan bantuan. Penyemprotan difokuskan pada rumah warga yang terjangkit DBD beserta lingkungan di sekitarnya.
Perbekel Banjarasem, I Made Sirsa, mengatakan pihak desa sebelumnya telah berkoordinasi dengan puskesmas terkait penanganan kasus DBD. Namun, karena tindak lanjut membutuhkan waktu, desa memilih mengajukan bantuan fogging kepada TRC bentukan dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG.
“Kami telah berkoordinasi dengan pihak terkait, namun terkendala prosedur dan aturan sehingga bantuan agak lambat. Sambil menunggu bantuan dari pihak terkait, kami mengambil tindakan dengan bersurat memohon bantuan ke TRC. Responsnya cepat, tim langsung turun melakukan fogging di rumah korban dan sekitarnya,” ujarnya.
Ia menyebut, kemunculan kasus DBD di Banjarasem bukan kali pertama terjadi. Karena itu, langkah penanganan cepat dinilai penting untuk mencegah penyebaran penyakit ke lebih banyak warga.
dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG, yang turut memimpin kegiatan fogging, mengatakan pengasapan bukan satu-satunya solusi dalam penanganan DBD. Menurutnya, langkah paling penting tetap terletak pada upaya pencegahan melalui kebersihan lingkungan dan perilaku hidup sehat.
Dokter yang akrab disapa Dokter Caput itu mengimbau warga menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta menerapkan langkah 4M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, mengubur barang bekas yang dapat menampung air, dan membersihkan lingkungan secara rutin.
“Yang kami khawatirkan dari DBD adalah dampaknya bagi warga sekitar. Karena itu dibutuhkan edukasi agar masyarakat paham apa yang perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Pencegahan paling utama tetap dimulai dari sikap dan perilaku masyarakat itu sendiri,” katanya.(red/Tim)


Social Header