Buleleng, Bali Berkabar – Duka mendalam menyelimuti keluarga KD, warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, yang meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Jumat (24/7/2026) dini hari.
Peristiwa yang menyita perhatian publik itu tidak hanya menyisakan proses hukum yang kini masih berjalan, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban. KD meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang kini harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan sosok ayah sekaligus tulang punggung keluarga.
Istri korban, Putu Dewi Suryantini (35), mengaku suaminya telah tiga hari tidak pulang ke rumah sebelum kabar duka itu diterimanya. Selama pergi, korban tidak sempat berpamitan.
Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga saat itu memang sedang sulit. Ia menduga suaminya pergi untuk mencari nafkah karena masih memiliki tanggungan biaya pendidikan anak sekitar Rp2,7 juta.
"Saya hanya berpikir mungkin suami pergi mencari uang untuk biaya sekolah anak," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu, sepupu korban, Made Parta (58), mengatakan keluarga pertama kali mendapat informasi dari Kepala Dusun dan Perbekel Desa Sidetapa mengenai penemuan sesosok mayat di wilayah Baturiti. Mendengar kabar tersebut, keluarga langsung menuju Polsek Baturiti dan rumah sakit untuk memastikan identitas korban.
Saat melihat jenazah, Made Parta mengaku tidak kuasa menahan kesedihan. Menurutnya, korban mengalami luka berat di sejumlah bagian tubuh.
"Di bagian kepala lukanya sangat parah, kaki diduga patah, dan punggung juga penuh luka," ujarnya.
Ia juga mengaku melihat bangkai sepeda motor yang diduga milik korban berada di Polsek Baturiti. Dari informasi yang diterimanya, kendaraan tersebut telah dibakar.
Atas peristiwa itu, keluarga berharap aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
"Kami berharap kasus ini diproses sesuai hukum dan diungkap secara maksimal," kata Made Parta.
Perbekel Desa Sidetapa, I Made Sutama, mengaku sangat terpukul atas meninggalnya salah seorang warganya. Menurutnya, korban dikenal sebagai pribadi yang bergaul baik di lingkungan desa.
Sutama menjelaskan, dari sisi ekonomi korban masuk dalam kategori Desil 2, yakni kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Ia juga menyebut korban pernah tersangkut persoalan hukum sekitar lima tahun lalu. Namun menurutnya, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menghilangkan nyawa seseorang.
"Kalau memang ada dugaan tindak pidana pencurian, serahkan kepada aparat penegak hukum. Jangan main hakim sendiri," tegasnya.
Perbekel mengaku kesedihannya semakin bertambah saat melihat kondisi istri dan anak-anak korban. Anak bungsu korban bahkan disebut hampir pingsan karena menangis histeris ketika jenazah sang ayah tiba di rumah duka.
"Anaknya yang paling kecil hampir pingsan karena terus menangis. Kami semua sangat terpukul melihat kondisi keluarga yang ditinggalkan," ungkapnya.
Menurut Sutama, kini yang menjadi perhatian utama adalah masa depan ketiga anak korban. Pemerintah Desa Sidetapa telah berupaya mencarikan bantuan agar pendidikan mereka tetap dapat berlanjut.
Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Bupati Buleleng. Menindaklanjuti hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan disebut telah mulai melakukan pendampingan terhadap keluarga korban.
"Mudah-mudahan pendidikan anak-anaknya tetap bisa berlanjut. Salah satu upaya yang sedang kami dorong adalah mengarahkan mereka ke Sekolah Rakyat di Karangasem," jelasnya.
Sutama berharap peristiwa tersebut menjadi yang terakhir dan tidak kembali terjadi di Bali.
"Indonesia adalah negara hukum. Kalau memang ada yang diduga mencuri, ada aturan dan pasal yang mengaturnya. Jangan sampai nyawa seseorang dihilangkan karena tindakan main hakim sendiri," tegasnya.
Ia juga meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia agar memberikan rasa keadilan bagi keluarga sekaligus menjadi pelajaran bagi masyarakat.
Sebelumnya, berdasarkan informasi yang dihimpun, korban diduga kepergok warga saat hendak mencuri seekor ayam aduan. Dugaan tersebut kemudian memicu aksi pengeroyokan oleh massa hingga korban meninggal dunia. Selain itu, sepeda motor yang diduga digunakan korban juga dilaporkan dibakar.
Hingga berita ini diterbitkan, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap secara utuh rangkaian peristiwa tersebut, termasuk memastikan kronologi kejadian, dugaan tindak pidana yang terjadi, serta mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat. Seluruh pihak tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah hingga adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. (Smty)


Social Header