Breaking News

Pasca Viral Tangisan Anak Korban Kasus Dugaan Pencurian Ayam, Gelombang Kepedulian Mengalir ke Keluarga Korban Pengeroyokan di Sidatapa

Foto: Perwakilan yayasan sosial menyerahkan bantuan berupa satu unit sepeda motor Honda Scoopy dan uang tunai sebesar Rp190 juta kepada istri korban dugaan pengeroyokan di Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Buleleng. 

BULELENG, Bali Berkabar – Gelombang kepedulian masyarakat terus mengalir kepada keluarga korban dugaan pengeroyokan yang diduga berawal dari kasus dugaan pencurian ayam di Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Peristiwa yang menyita perhatian publik tersebut semakin menjadi sorotan setelah video tangisan histeris anak korban saat mengantarkan jenazah ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir viral di berbagai platform media sosial.

Sejak sehari setelah prosesi pemakaman yang berlangsung pada Jumat, 24 Juli 2026, rumah duka di Desa Sidetapa hampir tidak pernah sepi dari kedatangan masyarakat. Warga, tokoh masyarakat, relawan sosial, yayasan kemanusiaan, konten kreator, tokoh politik, hingga perwakilan instansi pemerintah seperti Dinas Sosial dan Kementerian Sosial, silih berganti datang menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan bantuan kepada keluarga korban.

Berdasarkan pantauan di lapangan, bantuan tidak hanya datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Buleleng, tetapi juga dari sejumlah daerah di Bali hingga luar Bali. Bantuan yang diberikan berupa uang tunai, sembako, pakaian anak-anak, hingga kendaraan bermotor.

Pada Sabtu, 25 Juli 2026, seorang pengusaha kosmetik menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp30 juta kepada keluarga korban sebagai bentuk kepedulian atas musibah tersebut.

Di hari yang sama, seorang dermawan asal Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, juga memberikan bantuan uang tunai serta menyatakan kesiapannya membantu biaya pendidikan salah satu anak korban hingga lulus SMA.

Selain itu, seorang anggota DPD RI asal Bali turut menyampaikan komitmennya untuk membantu biaya pendidikan anak-anak korban hingga menyelesaikan pendidikan jenjang sarjana.

Dukungan serupa juga datang dari pegiat sosial Wayan Setiawan bersama sejumlah yayasan kemanusiaan yang memberikan bantuan uang tunai dan kebutuhan pokok.

Memasuki Senin, 27 Juli 2026, bantuan kepada keluarga korban masih terus berdatangan dari berbagai lembaga, yayasan sosial, organisasi masyarakat, hingga sejumlah tokoh.

Salah satu yayasan sosial menyerahkan satu unit sepeda motor Honda Scoopy dan bantuan uang tunai sebesar Rp190 juta kepada keluarga korban. Bantuan uang tersebut disebut merupakan hasil penggalangan dana dari para donatur yang dihimpun sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga korban.

Penyerahan bantuan dilakukan langsung kepada istri korban dan disaksikan oleh Perbekel Desa Sidetapa, tokoh masyarakat, serta warga yang hadir di rumah duka.

Selain bantuan tersebut, sejumlah dermawan lainnya juga menyatakan kesiapannya membantu biaya pendidikan kedua anak korban hingga menyelesaikan pendidikan.

Pada hari yang sama, perwakilan dari Kang Dedi Mulyadi (KDM) turut hadir meninjau kondisi rumah dan keluarga korban. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan KDM menyampaikan bahwa kondisi keluarga korban telah dilaporkan kepada KDM.

Ia juga menyampaikan bahwa tidak menutup kemungkinan KDM akan datang langsung mengunjungi rumah korban sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga yang tengah menghadapi musibah.

Sementara itu, perwakilan lembaga kementerian sosial yang bertugas di Bali turut memberikan bantuan sembako serta menyatakan kesiapan memberikan pendampingan psikologis apabila kedua anak korban membutuhkan penanganan trauma pascakejadian.

Anak bungsu korban yang videonya viral saat menangis histeris ketika mengantarkan jenazah ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir, kini mulai berangsur pulih.

Berdasarkan pantauan di rumah duka, anak tersebut terlihat kembali ceria. Ia tampak bermain bersama teman-temannya dan mulai aktif berinteraksi dengan masyarakat yang datang memberikan dukungan kepada keluarganya.

Sementara itu, anak sulung korban berdasarkan keterangan keluarga dekat korban, Made Suparta, hingga kini masih mengalami trauma dan kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih.

"Kondisinya masih agak trauma. Saat ini kesehatannya juga kurang begitu baik. Kemungkinan masih teringat almarhum ayahnya, ditambah beberapa hari terakhir banyak tamu yang datang sehingga cukup menguras tenaga," ujar Made Suparta.

Sejumlah pihak juga telah menawarkan pendampingan psikologis untuk membantu proses pemulihan trauma yang dialami anak-anak korban.

Mengenai proses hukum yang sedang berjalan, Made Suparta mengatakan pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.

Terkait kemungkinan adanya perdamaian, ia menyebut keputusan tersebut belum dapat diambil secara pribadi dan masih akan dibahas bersama keluarga besar.

"Untuk masalah perdamaian, saya tidak bisa memutuskan sendiri. Saya akan berdiskusi dengan keluarga besar bagaimana keputusannya nanti. Untuk saat ini, biarlah proses hukum berjalan dan kami serahkan kepada aparat penegak hukum sesuai ketentuan yang berlaku," katanya.

Sementara itu, Perbekel Desa Sidetapa, I Made Sutama, mengajak masyarakat agar tidak menyelesaikan persoalan hukum dengan tindakan main hakim sendiri.

Menurutnya, setiap dugaan tindak pidana harus diserahkan kepada aparat penegak hukum agar diproses sesuai aturan yang berlaku.

Ia juga menyampaikan bahwa keluarga korban tidak berencana melakukan pelaporan balik dan memilih menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

"Nggak (melaporkan balik), keluarga menerima dan mengikhlaskan. Orangnya juga sudah meninggal dan itu massa yang bergerak. Mungkin kalau ada karma, nanti Tuhan-lah yang memberikan jalan terbaik," ujar I Made Sutama, Minggu (26/7/2026).

Ia berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi di tengah masyarakat Bali.

"Kita nyama Bali. Kesalahan orang pasti ada, tetapi janganlah gara-gara dugaan mencuri ayam sampai menghilangkan nyawa orang," tegasnya.

I Made Sutama juga mengimbau masyarakat agar menahan diri dan mempercayakan setiap persoalan hukum kepada aparat penegak hukum sehingga proses berjalan sesuai ketentuan.

Gelombang kepedulian yang terus berdatangan menunjukkan besarnya empati masyarakat terhadap keluarga korban. Bantuan tersebut diharapkan mampu meringankan beban keluarga sekaligus menjadi dukungan bagi kedua anak korban untuk bangkit, melanjutkan pendidikan, dan menatap masa depan. (Smty)


© Copyright 2022 - Bali Berkabar