Breaking News

Nasib Dua Keluarga Berbanding Terbalik Pascatragedi Pencurian Ayam di Tabanan, Satu Banjir Simpati, Satu Lagi Berjuang Bertahan Hidup


Keluarga dari salah satu tersangka yang kini telah ditahan oleh Polres Tabanan atas dugaan pengeroyokan yang dilakukan terhadap terduga pencuri ayam hingga tewas di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

TABANAN, Bali Berkabar – Tragedi dugaan pencurian ayam yang berujung tewasnya KD setelah menjadi korban pengeroyokan warga di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, menyisakan kisah pilu bagi dua keluarga yang kini menjalani kehidupan dengan nasib yang sangat berbeda.

Kasus yang masih bergulir dalam proses hukum itu tidak hanya meninggalkan duka akibat hilangnya nyawa seseorang, tetapi juga menghadirkan potret kontras tentang bagaimana dua keluarga menjalani kehidupan setelah peristiwa tersebut.

Di satu sisi, keluarga almarhum KD yang diduga terlibat dalam pencurian ayam memperoleh gelombang simpati dari masyarakat setelah video yang memperlihatkan anak almarhum menangis saat prosesi pemakaman viral di media sosial.

Sejak saat itu, berbagai bantuan mengalir dari masyarakat, kreator konten, tokoh publik, relawan, hingga para dermawan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga almarhum saat menyerahkan bantuan.

Selain itu, AWK juga menyatakan komitmennya untuk membantu pendidikan anak-anak almarhum hingga menyelesaikan pendidikan di jenjang perguruan tinggi atau sarjana. Berbagai bantuan lainnya juga diberikan para donatur, mulai dari uang tunai, dua unit sepeda motor, sepeda untuk adik almarhum, sembako, ipad, hingga kebutuhan hidup lainnya. Nilai bantuan dari berbagai pihak disebut telah mencapai ratusan juta rupiah.

Berbeda dengan keluarga almarhum KD, kondisi yang kini dihadapi keluarga para tersangka pengeroyokan justru semakin berat.

Ni Putu Ayu Yuni Astini, istri salah seorang tersangka, mengaku kehidupan keluarganya berubah drastis sejak suami dan anaknya menjalani proses hukum. Menurut Yuni, keduanya selama ini menjadi tulang punggung keluarga yang mengelola usaha peternakan ayam sebagai sumber penghasilan.

Kini, seluruh beban rumah tangga berada di pundaknya. Selain harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, Yuni mengaku juga sedang berjuang melawan penyakit saraf kejepit yang dideritanya sehingga harus menjalani pengobatan dan perawatan. Di tengah kondisi tersebut, ia masih dibebani kewajiban membayar angsuran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sebelumnya dipinjam sebagai modal usaha peternakan ayam.

Tidak hanya itu, Yuni juga harus menghidupi menantunya serta dua cucunya yang masih berusia balita. Sejak suami dan anaknya ditahan, usaha peternakan ayam yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga praktis tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

"Semoga ada keadilan untuk suami dan ayah mertua saya," ujar Yuni.

Di balik peristiwa tersebut, ibu pemilik ayam juga mengungkapkan bahwa aksi pencurian diduga telah berulang kali terjadi. Dengan suara lirih, ia mengaku kehilangan 16 ekor ayam dalam kurun waktu sekitar dua bulan.

Ayam-ayam tersebut bukan sekadar ternak, melainkan menjadi sumber penghidupan keluarga. Karena berulang kali kehilangan ayam, ia mengaku bahkan kerap bermalam di kebun demi menjaga kandangnya agar tidak kembali menjadi sasaran pencurian.

Sementara itu, terkait kronologi kejadian, Yuni Astini mengaku peristiwa bermula ketika iparnya memergoki seseorang yang diduga hendak mencuri ayam. Menurut pengakuannya, orang tersebut sempat mengancam iparnya. Merasa terancam, iparnya kemudian menghubungi anggota keluarga dan warga lainnya. Tidak lama kemudian, warga berdatangan ke lokasi. Situasi selanjutnya berkembang hingga terjadi aksi pengeroyokan yang mengakibatkan KD meninggal dunia.

Keterangan tersebut merupakan pengakuan dari pihak keluarga tersangka. Adapun rangkaian peristiwa secara utuh masih menjadi bagian dari proses penyidikan dan pembuktian di persidangan.

Potret dua keluarga ini memperlihatkan sisi lain dari sebuah tragedi. Di satu pihak, keluarga almarhum yang diduga terlibat dalam pencurian ayam memperoleh gelombang empati dan bantuan dari berbagai kalangan. Di pihak lain, keluarga para tersangka pengeroyokan harus berjuang menghadapi tekanan ekonomi setelah kehilangan sosok pencari nafkah utama.

Terlepas dari berbagai dinamika yang berkembang di tengah masyarakat, proses hukum atas perkara ini masih terus berjalan. Aparat penegak hukum diharapkan dapat mengungkap seluruh rangkaian peristiwa secara objektif sehingga memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan bagi semua pihak. (Smty)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar