Jacobus K Mayong Padang: "Inggit dikenal setia menemani Soekarno saat berjuang, saat miskin, dan saat dikejar Belanda. Bukan saat Soekarno sudah berkuasa, “Jadi bersama saat penderitaan, bukan saat dielu-eluhkan,”
Bandung, Baliberkabar.id- Sebuah video pendek hasil kecerdasan buatan yang dikirim Jumat sore, 28 Agustus 2026, membuka kembali luka sejarah. Kalimat pembukanya sederhana: “Aku adalah seorang perempuan yang menemani Soekarno saat ia belum menjadi presiden.”
Itulah Pantas Inggit Garnasih. Perempuan yang mendampingi Bung Karno selama 20 tahun, dari masa pembuangan di Ende dan Bengkulu hingga masa pergerakan.
Jacobus K. Mayong Padang mengaku terdiam saat menonton video itu.
“Haru, gemas, bangga bercampur jadi satu,” ujarnya. Ia sampai merapikan duduk, seolah sedang mendengar kesaksian langsung dari sejarah.
"Tiga Kali Diusulkan, Belum Jadi Pahlawan"
Hingga Indonesia berusia 81 tahun, nama Inggit Garnasih belum tercantum sebagai Pahlawan Nasional. Padahal, menurut Jacobus, sudah tiga kali diusulkan ke negara.
Bagi pegiat sejarah, ini menyakitkan. Inggit dikenal setia menemani Soekarno saat berjuang, saat miskin, dan saat dikejar Belanda. Bukan saat Soekarno sudah berkuasa.
“Jadi bersama saat penderitaan, bukan saat dielu-eluhkan,” kata Jacobus.
"Rumah di Jalan Inggit Garnasih No 8: Kumuh dan Tak Dikenal"
Keprihatinan terbesar justru ada pada rumah perjuangan di Jalan Inggit Garnasih No 8, Bandung. Tempat yang menjadi saksi bisu pergerakan Soekarno-Inggit itu kini jauh dari layak sebagai situs sejarah.
Jacobus bercerita tentang kunjungan pertamanya ke sana. Ia berharap menemukan suasana seperti Rumah Gandhi di Mumbai, India: bersih, rapi, terawat, dan terasa “hidup”.
Kenyataannya berbeda.
“Ternyata kumuh, tidak terawat. Para pedagang barang bekas di depannya bahkan tidak tahu itu rumah siapa. Saya sampai menangis di terasnya,” kenangnya.
"Diskusi 20 Tahun Lalu Tak Mengubah Apa-apa"
Dua dekade lalu Jacobus pernah menginisiasi diskusi kecil untuk menggugah kepedulian. Saat itu Ferdi dan Lubis dari Pemuda Demokrat Bandung mengaku “berdosa” karena tidak pernah peduli. Ibu Sidiq, mertua Taufan Soekarnoputra, bahkan marah karena diskusi untuk sosok sebesar Inggit dibuat “sangat sederhana”.
Namun hingga kini situasinya tidak banyak berubah. Rumah itu tetap biasa-biasa saja. Inggit tetap “sepi”.
“Alhamdulillah video AI ini sedikit menyemangati di tengah kebingungan tentang sepinya hidup seorang yang bercucuran keringat dan air mata mengantar republik ke gerbang kemerdekaan,” tulis Jacobus.
Ia menutup tulisannya dengan tagar #jasmerah #inggitdilupakan #rumahperjuangansoekarnoinggit sebagai pengingat agar bangsa tidak melupakan sejarah dan para pelopornya.(DW)
Catatan Redaksi
Pantas Inggit Garnasih (1888-1984) adalah istri kedua Soekarno. Ia mendampingi Bung Karno selama 20 tahun, termasuk saat masa pembuangan. Setelah berpisah, Inggit tetap tinggal di Bandung hingga wafat.


Social Header