Bocah tujuh tahun di Sidikalang, Dairi, Sumatera Utara, menjadi korban dugaan kekerasan hingga mengalami luka pada bagian bibir. Di tengah kondisi keluarganya, sang ayah disebut berada di penjara karena kasus narkoba, sementara ibunya pergi ke luar kota mencari nafkah. Kisah bocah tersebut kemudian viral di media sosial.
DAIRI, Bali Berkabar — Di usia yang baru menginjak tujuh tahun, seorang bocah laki-laki di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, harus berhadapan dengan kondisi yang memprihatinkan. Tubuhnya mengalami sejumlah luka, termasuk pada bagian bibir yang tampak robek dalam video yang beredar luas di media sosial.
Bocah berinisial AGP itu ditemukan dalam kondisi terluka hingga kisahnya kemudian menjadi perhatian publik. Dalam rekaman yang beredar, AGP menceritakan keadaan keluarganya dengan polos. Ia mengatakan ayahnya sedang berada di penjara karena kasus narkoba. Sementara ketika ditanya mengenai ibunya, bocah tersebut mengaku tidak mengetahui keberadaan sang ibu.
“Bapakku di penjara narkoba, mamakku enggak tahu di mana,” demikian pengakuan AGP dalam video yang beredar di media sosial.
Di balik pengakuan singkat tersebut, terdapat kehidupan keluarga yang membuat AGP dan adiknya, AP yang masih berusia enam tahun, harus berada dalam pengasuhan orang lain.
Informasi yang dihimpun dari kepolisian menyebutkan, ibu kedua anak tersebut pergi ke luar kota untuk mencari nafkah. Sementara ayah mereka sedang menjalani hukuman dalam perkara narkotika.
Kedua anak itu kemudian diasuh oleh seorang perempuan berinisial RS, berusia 52 tahun, yang merupakan teman dari ibu mereka. Keduanya disebut telah berada dalam pengasuhan RS selama sekitar lima tahun.
Dalam pemberitaan awal, RS disebut sebagai bibi korban. Namun, polisi kemudian memberikan klarifikasi bahwa perempuan tersebut bukan bibi kandung kedua anak itu, melainkan pengasuh yang dipercaya merawat mereka.
Selama berada dalam pengasuhan tersebut, RS disebut menerima uang sebesar Rp500 ribu setiap minggu dari ibu korban.
Namun, pengasuhan yang telah berlangsung bertahun-tahun itu justru berujung pada dugaan kekerasan.
Dalam video yang viral, luka pada wajah AGP terlihat jelas. Bagian bibirnya tampak mengalami luka hingga robek. Pemeriksaan medis yang dikutip kepolisian juga menunjukkan adanya luka pada bibir, lebam pada tangan kiri serta luka yang telah bernanah pada sejumlah bagian tubuh, termasuk kaki kanan.
Bukan hanya AGP. Adiknya, AP, juga diduga mengalami kekerasan.
Kasus tersebut akhirnya mendapat perhatian setelah warga mengetahui kondisi AGP dan video pengakuannya menyebar luas di media sosial. Petugas Unit PPA Satreskrim Polres Dairi bersama Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak kemudian mendatangi lokasi untuk mengevakuasi kedua anak tersebut.
Dalam prosesnya, petugas sempat menghadapi kendala karena RS disebut sempat menghalangi proses evakuasi. Namun, kedua anak akhirnya berhasil dibawa untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan di RSUD Sidikalang.
RS kemudian diamankan polisi untuk menjalani pemeriksaan terkait dugaan kekerasan terhadap kedua anak tersebut. Polisi menyebut RS mengakui pernah melakukan kekerasan terhadap korban dan berdalih anak-anak tersebut dianggap nakal serta dirinya berada dalam kondisi emosional.
Alasan tersebut kini menjadi bagian dari penyidikan. Polisi masih mendalami rangkaian kekerasan yang diduga dialami kedua anak tersebut, termasuk bagaimana kekerasan itu terjadi dan sudah berlangsung sejak kapan.
Kasus ini pun menyisakan pertanyaan yang lebih luas. Ketika seorang ayah sedang menjalani hukuman karena narkoba dan seorang ibu harus pergi ke luar kota untuk mencari nafkah, kedua anak tersebut berada dalam pengasuhan orang lain selama bertahun-tahun.
Di usia yang seharusnya dipenuhi perhatian dan perlindungan, AGP justru muncul dalam sebuah video dengan luka pada tubuh dan pengakuan polos bahwa ia tidak mengetahui keberadaan ibunya.
Kini, selain proses hukum terhadap pihak yang diduga melakukan kekerasan, perhatian juga tertuju pada pemulihan kedua anak tersebut. Sebab, luka pada tubuh mungkin dapat sembuh seiring waktu, tetapi pengalaman kekerasan pada masa kanak-kanak dapat meninggalkan trauma yang jauh lebih panjang.
Pemerintah Kabupaten Dairi juga telah memberikan perhatian terhadap kondisi korban. Wakil Bupati Dairi Wahyu Daniel Sagala mengunjungi AGP di RSUD Sidikalang dan memastikan korban mendapatkan penanganan medis serta pendampingan untuk pemulihan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ketika anak berada dalam pengasuhan orang lain, tanggung jawab untuk memastikan keselamatan dan perlindungannya tidak boleh hilang. (Smty)


Social Header