Screenshot rekaman CCTV memperlihatkan seorang pria yang diduga datang meminta uang dengan mengatasnamakan iuran Banjar dan keamanan di sebuah warung nasi campur Jawa di Jalan Gunung Soputan, Denpasar Barat, Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 19.00 WITA.
DENPASAR, Bali Berkabar – Seorang pria diduga meminta uang dengan mengaku sebagai pihak yang melakukan penarikan iuran Banjar dan uang keamanan di sebuah warung nasi campur Jawa di kawasan Jalan Gunung Soputan, Denpasar Barat, Bali, Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 19.00 WITA.
Pemilik warung, Sri Jumalis, mengatakan pria tersebut datang ketika dirinya sedang meninggalkan warung untuk membeli beras. Saat itu, warung dijaga oleh seorang karyawan yang masih baru dan belum mengetahui mekanisme pembayaran iuran Banjar maupun keamanan di lingkungan setempat.
Menurut Sri, pria tersebut kemudian meminta uang sebesar Rp60 ribu kepada karyawannya dengan alasan untuk keperluan iuran dan keamanan.
"Saya kan lagi keluar beli beras sebentar, sekitar 15 menit. Mbaknya yang jaga ini masih baru, jadi dia tidak tahu. Orang itu datang, bilang minta sumbangan uang Banjar," kata Sri saat ditemui.
Sri mengaku sebenarnya dirinya telah membayar kewajiban iuran Banjar sebelumnya. Bahkan, pembayaran tersebut disebut telah dilakukan hingga beberapa bulan ke depan sehingga ia merasa keberatan apabila kembali diminta membayar oleh pihak yang tidak jelas.
"Saya itu Banjar Pemecutan. Untuk iuran saya bayar sekitar Rp100 ribu per bulan dan sudah saya bayar sampai bulan Oktober. Jadi kalau ada yang datang lagi minta, kan saya khawatir malah bayar dua kali," ujarnya.
Sri juga menyebut, berdasarkan pengakuan karyawannya, pria tersebut sempat mengatakan uang yang diminta merupakan uang keamanan. Karyawan yang saat itu berada di warung akhirnya memberikan uang Rp60 ribu karena mengira permintaan tersebut benar.
"Sudah dikasih Rp60 ribu, katanya uang keamanan lagi Rp60 ribu," ungkap Sri.
Screenshot rekaman CCTV memperlihatkan karyawan warung menyerahkan uang kepada pria yang diduga meminta iuran. Penyerahan uang disebut dilakukan dua kali, masing-masing Rp60 ribu, pertama dengan alasan iuran Banjar dan kemudian untuk uang keamanan.
Kecurigaan Sri semakin muncul setelah mengetahui ciri-ciri orang yang datang tersebut. Menurutnya, apabila ada penarikan resmi berkaitan dengan Banjar atau kegiatan adat, biasanya orang yang bertugas mengenakan pakaian adat atau atribut yang menunjukkan identitasnya.
"Saya tanya, pakai baju adat tidak? Mbaknya bilang tidak. Saya bilang, biasanya kalau ada iuran dari Banjar atau apa, orangnya pakai baju adat," jelasnya.
Selain itu, Sri mengatakan pihak yang meminta uang tersebut tidak memberikan bukti atau kuitansi atas uang yang telah diterima.
"Mana kwitansinya, tidak dikasih. Tidak ada. Saya bilang ini tidak benar," katanya.
Peristiwa tersebut, lanjut Sri, juga terjadi saat terdapat sekitar tiga orang pembeli di warung. Salah seorang di antaranya merupakan pelanggan yang sudah cukup lama datang ke warung tersebut.
Sri mengaku memiliki rekaman kamera pengawas atau CCTV di lokasi yang dapat memperlihatkan kedatangan orang tersebut dan aktivitas yang terjadi saat dirinya sedang tidak berada di warung.
"Di warung ada CCTV. Begitu saya tahu kejadian ini, saya langsung bilang ke mbaknya, 'Kamu hati-hati lain kali. Ini orang tidak jelas,'" ujarnya.
Sri berharap kejadian tersebut tidak kembali dialami pemilik usaha maupun warga lainnya. Ia juga mengimbau agar setiap orang yang datang meminta iuran atau sumbangan, khususnya dengan mengatasnamakan Banjar maupun keamanan lingkungan, terlebih dahulu dimintai identitas dan bukti penarikan.
"Kalau memang benar iuran Banjar, mestinya jelas siapa yang meminta, untuk apa, dan ada buktinya. Jangan sampai orang yang sudah bayar malah membayar lagi," tegas Sri. (Smty)
Penulis: Gede Sumertayasa, S.H.


Social Header