BULELENG, Bali Berkabar — Desa Adat Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, tengah mempersiapkan pelaksanaan Ngusaba Agung yang menjadi salah satu tradisi adat dan budaya yang terus dilestarikan oleh krama setempat.
Rangkaian Upacara Ngusaba Agung diawali dengan tradisi mepepada, nyepi lokal dan tradisi nyakan diwang. Setelah rangkaian tersebut, pelaksanaan kemudian dilanjutkan dengan tradisi meboros, yakni tradisi mencari atau berburu kidang yang nantinya dipergunakan sebagai bagian dari sarana upacara.
Keterangan tersebut disampaikan Jro Mangku Ketut Swiditha, anggota Kertha Desa Adat Kedis, saat ditemui Bali Berkabar di Kantor Desa Adat Kedis, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, rangkaian Ngusaba telah dipersiapkan melalui sejumlah tahapan. Salah satunya adalah meboros yang dilaksanakan krama desa pada 19 September 2026.
"Saat upacara Ngusaba, meboros ini dilaksanakan untuk mencari kidang yang dipergunakan dalam rangkaian upacara," jelas Jro Mangku Ketut Swiditha.
Pelaksanaan meboros diawali dengan berkumpulnya krama desa di Pura Puseh. Dari tempat tersebut, krama kemudian bersama-sama menuju kawasan hutan di sekitar wilayah Desa Kedis untuk mencari kidang.
Dalam pelaksanaannya, tradisi meboros tidak dilakukan dengan menggunakan senjata tajam. Selain mempertahankan tata cara yang diwariskan secara turun-temurun, kegiatan tersebut juga mengandung nilai untuk menjaga alam.
Setelah kidang berhasil didapatkan, hewan tersebut kemudian dibawa kembali dan diproses sesuai ketentuan adat untuk selanjutnya dipergunakan dalam rangkaian upacara Ngusaba.
Bagian tubuh dan bulu kidang dipersiapkan sebagai sarana upacara. Tradisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian adat yang hingga kini masih dijalankan oleh krama Desa Adat Kedis.
Foto: Kertha Desa Adat Kedis, Jro Mangku Ketut Swiditha, bersama Bendesa Adat Kedis, Jro I Gede Suyasa, saat memberikan keterangan terkait rangkaian upacara Ngusaba Desa Adat Kedis.
Sementara itu, Jro I Gede Suyasa, Bendesa Adat Kedis, mengatakan Ngusaba juga menjadi momentum penting dalam pelestarian tradisi serta pelibatan generasi muda.
Dalam rangkaian upacara terdapat prosesi ngeraja singa bagi remaja laki-laki dan ngeraja sewala bagi remaja perempuan. Prosesi tersebut menjadi bagian dari tahapan adat bagi generasi muda Desa Adat Kedis.
"Sekarang, krama Desa Adat Kedis tinggal melestarikan saja apa yang ada," ujar Jro I Gede Suyasa.
Rangkaian Ngusaba juga diisi dengan tari ngidergita serta Rsi Bojana. Tradisi tersebut menjadi bagian dari keseluruhan pelaksanaan upacara yang melibatkan krama desa.
Setelah rangkaian upacara mencapai tahap akhir, terdapat pula gargite, yang dalam penjelasan narasumber dimaknai sebagai megirang-girangan atau suasana kegembiraan karena rangkaian upacara telah mencapai tahap paripurna.
Pelaksanaan Ngusaba juga membutuhkan biaya yang cukup besar. Berdasarkan perencanaan dan RAB yang disampaikan Bendesa Adat Kedis, kebutuhan dana seluruh rangkaian upacara diperkirakan sekitar Rp160 juta.
Dana tersebut berasal dari kas desa adat, punia, serta sumber pendanaan lainnya yang dihimpun untuk mendukung pelaksanaan upacara.
Bagi krama Desa Adat Kedis, tradisi meboros tidak semata-mata menjadi bagian dari persiapan sarana upacara. Tradisi tersebut juga menjadi cara untuk mempertahankan warisan leluhur sekaligus mengajarkan nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap alam.
Dengan tetap menjalankan meboros sesuai tata cara adat, krama Desa Adat Kedis berupaya menjaga agar tradisi tersebut tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. (Smty)
Penulis: Gede Sumertayasa, S.H.


Social Header