Breaking News

Ditengah Krisis Pariwisata, KEDASIH Kembali Digelar

Buleleng - baliberkabar.id | Kelompok Diskusi Asyik Intelektual Hindu (KEDASIH) kembali digelar untuk keempat kalinya pada Minggu, 18 Januari 2026 , bertempat di wantilan Pura Agung Jagatnatha Buleleng Bali.

Forum diskusi ini merupakan ruang dialog intelektual yang diinisiasi oleh Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Buleleng, I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H., serta didukung oleh kolaborasi organisasi kepemudaan Hindu, di antaranya PC KMHDI Buleleng, DPC Prajaniti Kabupaten Buleleng, dan DPK Peradah Buleleng. KEDASIH hadir sebagai wadah pertukaran gagasan kritis pemuda Hindu dalam merespons isu-isu yang ada di daerah. 

Pada pelaksanaan KEDASIH IV, tema yang diangkat adalah “Menuju Buleleng sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Tengah Krisis Pariwisata: Tantangan, Peluang, dan Peran Hindu Muda.” Tema ini dipilih sebagai respons atas wacana pengembangan KEK di Buleleng yang dinilai memiliki implikasi besar terhadap arah pembangunan, pariwisata, ekonomi, serta keberlanjutan budaya masyarakat Buleleng. 
Diskusi menghadirkan dua narasumber utama, yakni Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng dan Komisaris Utama PT Griya Viswakarma Properti, Kadek Krisna Wikan Nanda. 

Forum diskusi ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Buleleng, perwakilan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, perwakilan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, mahasiswa, siswa serta masyarakat umum. Kehadiran unsur regulator, eksekutor, praktisi, dan generasi muda dalam satu ruang dialog menjadi kekuatan utama diskusi yang berlangsung dalam suasana santai namun substantif. 

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng menjelaskan bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) merupakan wilayah yang dirancang dengan fungsi terintegrasi, meliputi pariwisata, industri, budaya, pertanian, perkebunan, peternakan, serta aktivitas ekonomi lainnya yang saling berkesinambungan.

" Konsep KEK diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui kemudahan akses investasi, infrastruktur, dan kebijakan fiskal. Wilayah Bali Barat seperti Banyupoh, Sumberkima, Pejarakan, serta kawasan wisata yang telah eksisting seperti Batu Ampar, Menjangan, dan Lovina disebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Bahkan, fenomena alam seperti kemunculan paus sperma (Physeter macrocephalus) di perairan Bali Utara–Barat dinilai dapat menjadi daya tarik baru pariwisata ," Ucap Dody.

Sementara itu, Kadek Krisna Wikan Nanda menyoroti wacana KEK dari perspektif praktisi. Ia menyampaikan secara kritis bahwa kesiapan daerah harus menjadi perhatian utama sebelum melangkah lebih jauh. Ia menilai bahwa rencana KEK berpotensi berjalan terlalu cepat apabila tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dasar, seperti kondisi jalan dan penanganan banjir. Ia juga mengingatkan tingginya angka urbanisasi dan rendahnya lapangan kerja lokal yang berimplikasi pada migrasi tenaga kerja keluar daerah, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang akan mewarisi dan menjaga budaya lokal ke depan. 

" kekuatan utama pariwisata Buleleng seharusnya bertumpu pada akar budaya yang kuat, bukan semata pada pembangunan fasilitas yang bersifat artifisial. Bali Utara dinilai memiliki kekayaan alam yang lengkap, mulai dari danau, gunung, hingga air terjun, yang menjadi peluang besar apabila dikelola dengan kesadaran dan partisipasi masyarakat lokal. Generasi muda didorong untuk mengambil peran aktif sebagai kreator konten, influencer, pemandu wisata, maupun komunikator budaya dengan meningkatkan kapasitas diri, termasuk penguasaan bahasa asing ," tegas Krisna.

Diskusi juga menekankan pentingnya sikap kritis generasi muda dalam menyikapi berbagai wacana pembangunan, agar Buleleng tidak hanya menjadi target dari harapan-harapan semu. Kadek Krisna Wikan Nanda mengingatkan, peran ekonmi sedehana seperti mendukung warung dan usaha lokal di lingkungan sekitar dinilai sebagai langkah nyata menjaga perputaran ekonomi masyarakat, sekaligus menjawab paradoks pariwisata yang hadir namun manfaatnya tidak apat dirasakan sepenuhnya oleh warga lokal.

Sesi diskusi diperkuat dengan tanggapan peserta, termasuk mahasiswa dan perwakilan pelaku industri pariwisata. Salah satu isu krusial yang mengemuka adalah kesiapan regulasi investasi dalam melindungi hak dan legalitas masyarakat lokal, belajar dari berbagai persoalan yang terjadi di Bali Selatan. Forum ini juga menegaskan pentingnya keterlibatan multipihak, termasuk asosiasi pariwisata seperti PHRI, dalam setiap perencanaan pembangunan strategis. Selain itu, penting menjad peratian bahwa KEK tidak dibangun tidak semata-mata untuk ekonomi, tanpa mempertimbangkan dampak lingungan, sosial dan budaya masyarakat.

Menutup rangkaian diskusi, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Buleleng menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum KEDASIH IV. Ia menegaskan komitmennya sebagai wakil rakyat untuk menyerap dan membawa berbagai masukan serta isu yang berkembang dalam diskusi ke forum-forum resmi DPRD. Generasi muda diajak untuk terus bersikap kritis secara positif dan aktif terlibat dalam ruang-ruang dialog publik. Menurutnya, partisipasi dalam diskusi seperti KEDASIH merupakan wujud nyata peran Hindu muda yang intelektual, peduli, dan bertanggung jawab terhadap masa depan Buleleng.

" diharapkan terbangun kesadaran kolektif bahwa setiap wacana dan kebijakan pembangunan daerah, termasuk rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), perlu dikawal secara bersama-sama oleh pemerintah, masyarakat, dan generasi muda. Pengawalan tersebut harus dilakukan secara kritis, inklusif, dan berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal, agar arah pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga menjamin keberlanjutan sosial, budaya, dan lingkungan, sehingga Buleleng dapat tumbuh sebagai daerah yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berkeadilan," ujar Wandira. (Sdn/Hms)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar