Festival Ritme Internasional Buleleng kembali diadakan di Buleleng selama tiga hari.
BULELENG, Baliberkabar.id – Kabupaten Buleleng kembali menjadi panggung pertemuan budaya dunia melalui gelaran Buleleng International Rhythm Festival yang berlangsung di Gedung Kesenian Gde Manik, Rabu (11/3/2026). Festival ini menghadirkan delegasi seniman dari enam negara dan menjadi ruang pertunjukan seni sekaligus mempererat persahabatan antarbangsa.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, mengatakan pemerintah dan masyarakat Buleleng merasa bangga karena kembali dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan budaya berskala internasional tersebut.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Buleleng, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi yang hadir. Kami merasa terhormat dapat menyambut sahabat-sahabat dari enam negara, yaitu Korea Selatan, Thailand, Bulgaria, Filipina, Taiwan, dan Indonesia,” ujarnya saat membuka festival.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan masyarakat dari berbagai negara dalam semangat persahabatan.
“Kami berharap para delegasi menikmati waktu selama berada di Buleleng dan suatu hari nanti dapat kembali berkunjung. Mulai hari ini, kami menganggap Bapak dan Ibu sebagai duta Buleleng di negara masing-masing,” katanya.
Pelaksanaan festival ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, komunitas seni, hingga lembaga pendidikan. Dukungan di antaranya datang dari IOV Indonesia, UNESCO, Sanggar Selisari Budaya, serta Universitas Pendidikan Ganesha bersama sejumlah sekolah dan komunitas seni.
Sementara itu, Presiden IOV Indonesia, Andris Adhitra, dalam laporannya menyampaikan bahwa keterbukaan masyarakat Buleleng menjadi salah satu alasan daerah ini dinilai layak menjadi tuan rumah festival internasional tersebut.
Ia menjelaskan, BIRF pertama kali digelar pada Maret 2025 dan sejak saat itu berkembang menjadi ruang pertemuan budaya dunia yang mempererat hubungan antarbangsa.
“Di tengah situasi global yang masih diwarnai berbagai konflik, festival ini menjadi simbol bahwa manusia dari berbagai latar belakang bahasa, warna kulit, dan budaya tetap dapat bertemu dalam harmoni,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa masyarakat Buleleng patut berbangga karena festival internasional ini digagas dan diselenggarakan oleh putra-putri daerah yang memiliki komitmen memperkenalkan Buleleng ke dunia.
“Buleleng adalah tempat yang sangat indah, namun belum banyak dikenal di dunia. Ketika kami kembali ke negara masing-masing, kami akan menceritakan tentang Buleleng kepada masyarakat dunia,” katanya.
Festival seni budaya dunia yang digelar selama tiga hari tersebut diharapkan dapat semakin memperkenalkan Buleleng sebagai destinasi budaya internasional sekaligus menjadi ruang pertemuan yang mempererat persahabatan antarbangsa melalui seni dan budaya. (Smty)


Social Header