Breaking News

“Dari Pantai Kotor ke Mesin Tanpa Asap”: Anak Bali Klaim Temukan Cara Baru Habisi Sampah hingga 100 Ton Sekali Proses

Made Hiroki, anak muda Bali, memperkenalkan mesin pengolah sampah bertajuk “Solusi Aksara”, teknologi yang disebut mampu mengubah sampah campuran menjadi bahan paving block tanpa asap dan tanpa polusi.

DENPASAR, Baliberkabar.id – Kegelisahan melihat sampah menumpuk di pesisir Bali melahirkan terobosan yang diklaim tak biasa. Made Hiroki, anak muda Bali, memperkenalkan mesin pengolah sampah bertajuk “Solusi Aksara”, teknologi yang disebut mampu mengubah sampah campuran menjadi bahan paving block tanpa asap dan tanpa polusi.

Mesin ini diperkenalkan pada Senin (28/4/2026) di Denpasar, dengan klaim kapasitas pengolahan mencapai 50 hingga 100 ton sampah dalam satu siklus enam jam. Jika angka ini terbukti di lapangan, artinya satu unit mesin berpotensi memangkas persoalan sampah skala kabupaten hanya dalam hitungan hari.

Berbeda dari insinerator yang kerap menuai kritik karena emisi berbahaya, teknologi yang dibawa Hiroki mengandalkan sistem pirolisis tertutup, pemanasan tanpa oksigen pada suhu 400–700 derajat Celsius. Dalam proses ini, sampah tidak dibakar secara langsung, melainkan diurai menjadi gas dan residu padat.

Gas hasil proses tersebut diklaim kembali dimanfaatkan sebagai sumber energi, sementara sisa akhirnya berupa abu keramik yang stabil. Material ini bahkan disebut bisa langsung digunakan sebagai bahan baku paving block dan campuran semen.

“Ini bukan pembakaran. Tidak ada asap hitam, tidak ada dioksin. Yang keluar hanya uap air setelah difilter,” ujar Hiroki di hadapan timnya.

Untuk menekan emisi, sistem dilengkapi beberapa lapisan penyaring, mulai dari cyclone, scrubber, hingga carbon filter. Kombinasi ini diklaim mampu memastikan gas buang aman sebelum dilepas ke udara.

Tak berhenti di situ, tahap akhir proses disebut mencapai suhu 1.200 hingga 1.600 derajat Celsius, fase vitrifikasi yang membuat residu berubah menjadi material padat menyerupai keramik dan tidak lagi berbahaya.

Secara teknis, mesin ini dirancang modular dengan panjang sekitar 20–26 meter dan dikendalikan sistem otomatis berbasis PLC. Operator disebut cukup menekan satu tombol untuk menjalankan seluruh tahapan, dari input sampah hingga output akhir.

Yang menarik, mesin ini tidak pilih-pilih bahan. Sampah organik, plastik, styrofoam, sachet multilayer, hingga limbah tekstil yang selama ini menjadi “residu tak laku” di bank sampah, semuanya bisa masuk dalam satu sistem pengolahan.

Di atas kertas, volume sampah bisa ditekan hingga 90–95 persen.

Namun, di balik klaim ambisius tersebut, publik tentu menunggu pembuktian nyata. PT Aksara Cristy Legal, perusahaan yang menaungi proyek ini menyatakan akan mulai membangun prototipe mesin pada Selasa, 29 April 2026 di Denpasar.

Prototipe ini akan menjadi ujian sesungguhnya: apakah teknologi tersebut benar-benar mampu bekerja sesuai klaim, atau sekadar konsep di atas kertas.

Hiroki sendiri memasang target besar. Ia membayangkan setiap kabupaten/kota di Bali memiliki satu unit mesin.

“Kalau sembilan daerah pasang, sekitar 900 ton sampah per hari bisa selesai di hulu, tidak perlu lagi kirim ke TPA,” katanya.

Gagasan ini sejalan dengan arah kebijakan Pemprov Bali yang mendorong pengelolaan sampah berbasis sumber, sekaligus menekan praktik pembakaran terbuka yang selama ini masih terjadi di berbagai titik.

Di tengah krisis sampah yang belum menemukan solusi tuntas, kemunculan teknologi seperti ini bisa menjadi harapan, atau justru menambah daftar panjang eksperimen yang gagal diimplementasikan.

Semua kini bergantung pada satu hal: pembuktian di lapangan. (Smty)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar