Breaking News

Pelajar Bali Didekati Negara: Densus 88 Turun Tangan, Tangkal Radikalisme Sejak Bangku Sekolah


Denpasar, Baliberkabar.id — Upaya pencegahan radikalisme kini menyasar langsung ruang-ruang pendidikan. Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Densus 88 Antiteror menggelar talkshow khusus bagi pelajar di Bali, Jumat (24/4/2026), bertempat di Gedung Presisi Polda Bali.

Kegiatan ini diikuti ratusan pelajar dari berbagai sekolah di Bali, sebagai bagian dari strategi pencegahan dini terhadap penyebaran paham radikal dan terorisme di kalangan generasi muda.

Sejumlah pejabat turut hadir memberikan dukungan, di antaranya Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Gubernur Bali Wayan Koster, Kapolda Bali Daniel Adityajaya, serta jajaran kepolisian lainnya.

Dalam forum tersebut, pelajar tidak hanya menerima materi normatif. Narasumber membedah secara konkret bagaimana paham radikalisme bisa menyusup, terutama melalui media digital, serta cara mengenali dan menolaknya sejak dini. Peserta juga didorong untuk lebih kritis dalam menyaring informasi di era banjir konten, sekaligus menjaga nilai kebangsaan.

Wakapolda Bali I Made Astawa menegaskan bahwa pelajar merupakan kelompok strategis dalam menjaga masa depan bangsa. Mereka dinilai rentan menjadi target infiltrasi ideologi menyimpang jika tidak dibekali pemahaman yang kuat.

“Pencegahan terorisme harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk pelajar,” tegasnya saat mewakili Kepala Densus 88.

Kegiatan berlangsung di Gedung Presisi Polda Bali, Denpasar, pada Jumat, 24 April 2026, dengan peserta dari berbagai sekolah di seluruh Bali.

Selain Polri dan Densus 88 sebagai penggagas, kegiatan ini juga melibatkan pemerintah pusat dan daerah, serta institusi pendidikan sebagai mitra strategis dalam membangun ketahanan ideologi di kalangan pelajar.

Talkshow ini menjadi lebih dari sekadar sosialisasi. Ada pesan kuat bahwa perang melawan radikalisme tidak lagi hanya urusan aparat, tetapi juga kesadaran kolektif masyarakat, dimulai dari ruang kelas.

Di tengah derasnya arus informasi yang tak terbendung, pelajar Bali kini dihadapkan pada pilihan: menjadi penonton, atau justru menjadi benteng pertama yang menjaga harmoni dan persatuan.

Langkah ini menegaskan, pencegahan lebih murah daripada penindakan. Dan di Bali, upaya itu kini dimulai dari bangku sekolah. (Sdn)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar