BULELENG, Baliberkabar.id – Upaya pelestarian penyu sekaligus pengembangan destinasi wisata edukasi berbasis konservasi lingkungan mulai diwujudkan di kawasan Pantai Banyuasri, Kabupaten Buleleng. Langkah awal yang dilakukan adalah pembangunan bak penampungan sementara untuk penyelamatan telur penyu yang ditemukan di kawasan pesisir Bali Utara.
Program tersebut mendapat pendampingan dari Dinas Pertanian, Peternakan, dan Ketahanan Pangan (Distankan) Kabupaten Buleleng sebagai bagian dari upaya menjaga populasi penyu yang selama ini menjadikan pantai-pantai di Buleleng sebagai lokasi bertelur.
Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng, I Gede Melandrat, Jumat (29/5), mengatakan Kabupaten Buleleng memiliki garis pantai sepanjang 157,05 kilometer yang menjadi habitat berbagai jenis penyu, di antaranya penyu sisik hijau dan penyu belimbing.
Menurutnya, karakteristik pantai di wilayah Bali Utara yang banyak ditumbuhi tanaman katang-katang menjadi lokasi favorit bagi penyu untuk bertelur. Dari beberapa jenis penyu yang ada, penyu sisik hijau menjadi yang paling sering ditemukan mendarat dan bertelur di kawasan pesisir Buleleng.
“Paling banyak yang bertelur adalah penyu sisik hijau, seperti di Pantai Kerobokan, Pelabuhan Buleleng, kawasan Pantai Banyuasri, dan seputar Lovina,” ujar Melandrat.
Ia menegaskan, pelestarian penyu membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, pihaknya mendorong kelompok masyarakat pesisir untuk melakukan penyelamatan telur penyu melalui penanganan yang tepat guna meminimalkan risiko kerusakan akibat predator maupun aktivitas manusia.
“Jika penyu bertelur, agar lokasi tersebut ditandai dan ditutup menggunakan keranjang sehingga terhindar dari predator seperti anjing,” katanya.
Sementara itu, pengembangan konservasi tukik di kawasan Pantai Asri, Desa Adat Banyuasri, masih dilakukan secara bertahap. Selain pembangunan sarana sederhana, pengelola juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait guna memastikan seluruh proses konservasi berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketua Relawan Kurma Segara Raksa Banyuasri, Nyoman Sadwika, mengatakan pembangunan bak penampungan sementara dilakukan setelah adanya peninjauan dari Distankan Buleleng. Fasilitas tersebut dibangun bersama nelayan dan masyarakat sebagai langkah awal penyelamatan telur penyu yang ditemukan di kawasan pantai.
Menurutnya, bak penampungan yang ada saat ini masih bersifat sederhana dan belum memenuhi standar konservasi secara menyeluruh. Namun, keberadaannya dinilai penting untuk mencegah telur penyu rusak sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Bak penampungan yang kami buat belum memenuhi standar konservasi, namun bak ini untuk langkah penyelamatan bagi telur-telur penyu,” ujarnya.
Sadwika menjelaskan, setiap tahun kawasan Pantai Asri Banyuasri menjadi salah satu lokasi pendaratan penyu untuk bertelur. Selama ini, telur-telur yang ditemukan umumnya direlokasi ke tempat penangkaran terdekat guna menghindari ancaman predator dan kerusakan akibat faktor lingkungan.
Kini, relawan bersama nelayan dan krama desa mulai memperkuat upaya penyelamatan telur penyu secara lebih intensif. Mereka juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memperoleh pendampingan teknis dan memastikan kegiatan konservasi dilakukan sesuai regulasi.
“Kami berharap pelestarian telur penyu dan tukiknya bisa berjalan sesuai aturan dan arahan pemerintah,” kata Sadwika.
Ke depan, kawasan konservasi tukik di Banyuasri diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pusat penyelamatan dan pelestarian penyu, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi yang mengedepankan konservasi lingkungan serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem pesisir di Kabupaten Buleleng. (Smty)


Social Header