Breaking News

Heboh! Nobar Film _Pesta Babi_ soal Papua Dibubarkan di Unram dan UNDIKMA, Kampus Disebut Takut Kebenaran

JAKARTA, Baliberkabar.id
Film _Pesta Babi_ adalah cermin kengerian yang terjadi di Papua Selatan. Film ini mengangkat kisah masyarakat adat yang berjuang melawan eksploitasi tak berujung dan bayang-bayang militerisme demi proyek 2,5 juta hektare lahan.

Seharusnya, film ini menjadi alat belajar di kampus agar mahasiswa tidak berjarak dengan realitas. Namun, kenyataannya berbanding terbalik:

Di Universitas Mataram, acara diskusi dibubarkan oleh birokrasi kampus.  
Di UNDIKMA, polisi dikerahkan masuk ke ruang akademik.

Pertanyaannya: Apa yang salah dengan menonton film dan berdiskusi?  

Apakah kebenaran tentang Papua begitu menakutkan bagi akreditasi atau finansial kampus?

Ini adalah peringatan keras. Kita tidak sedang berada dalam demokrasi yang sekadar cacat, melainkan otoritarianisme yang dibangun ulang.

Mari jaga ruang aman kita sebelum semuanya dibungkam habis.

Apa Itu Film _Pesta Babi_?  
Film dokumenter ini bukan sekadar tontonan, melainkan saksi bisu atas kondisi masyarakat adat di Papua Selatan yang terhimpit Proyek Strategis Nasional. Pemerintah pusat di Jakarta menjalankan proyek pembukaan hutan seluas 2,5 juta hektare di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi dengan dalih ketahanan pangan dan energi.

Realitas yang Didokumentasikan 
Film ini mengungkap sisi gelap pembangunan: konflik agraria dan perampasan ruang hidup; kerusakan lingkungan akibat eksploitasi kapital; serta militerisme yang membayangi setiap aktivitas masyarakat adat. Negara hadir sebagai aktor utama di balik kengerian yang terjadi di daerah lain.

Mengapa Kampus Harus Menonton?  
Film ini adalah instrumen pendidikan penting. Kampus seharusnya memastikan mahasiswa tidak berjarak dari realitas sosial. Dunia akademik perlu menyadari bahwa eksploitasi alam, penindasan manusia, dan bahaya militerisme bagi warga sipil adalah fakta nyata yang masih terjadi hingga hari ini.

Ironi Pembungkaman di Unram  
Alih-alih memfasilitasi diskusi, Universitas Mataram justru membatasi ruang kritis. Pada 7 Mei 2026, Wakil Rektor 3 bersama puluhan Satpam membubarkan paksa nonton bareng dan diskusi film _Pesta Babi_ di lingkungan kampus tanpa alasan yang jelas.

Polisi Masuk Kampus
Kejadian serupa menimpa mahasiswa UNDIKMA pada 27 April 2026. Saat mahasiswa khidmat menyaksikan film, pihak kepolisian datang membubarkan agenda atas instruksi Rektor. Otoritas kampus gagal menjelaskan mengapa diskusi ilmiah ini dianggap sebagai ancaman.
Pertanyaan Besar untuk Akademisi 
Apa salahnya sebuah film ditonton dan didiskusikan oleh mahasiswa? Apakah merugikan finansial? Apakah menurunkan akreditasi? Atau justru, kampus bukan lagi ruang aman bagi pemikiran kritis yang membangun?

Wajah Asli Otoritarianisme 
Pembubaran paksa diskusi ilmiah adalah bentuk pengkhianatan ilmu pengetahuan terhadap kekuasaan yang otoriter. Inilah wajah rezim anti-demokrasi yang disokong militerisme. Mereka tak lagi segan menunjukkan kecenderungan otoritarianisme di institusi pendidikan yang seharusnya menjamin kebebasan berpendapat.

Peringatan untuk Kita Semua
Ini adalah peringatan keras bagi mahasiswa dan rakyat Indonesia. Kita tidak sedang berada dalam sistem demokrasi yang sekadar cacat, melainkan otoritarianisme yang dibangun ulang dan dibungkus dengan stabilitas semu ala kekuasaan yang menindas.


editor: D (DWahyudi/Dari Beberapa Sumber)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar