BULELENG, Baliberkabar.id – Penataan kawasan Titik Nol Kota Singaraja terus menjadi sorotan publik. Di balik perubahan wajah pusat kota tua tersebut, tersimpan strategi pembangunan yang tidak hanya menyasar aspek estetika, tetapi juga menjawab persoalan banjir, penguatan kawasan heritage, hingga pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali Utara.
Menariknya, proyek yang kini tengah berjalan itu tidak sepenuhnya membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Buleleng. Pemerintah Kabupaten Buleleng mengandalkan sinergi pendanaan dari pemerintah daerah lain dan Pemerintah Provinsi Bali untuk mewujudkan proyek strategis tersebut.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR Perkim) Kabupaten Buleleng, Putu Adiptha Ekaputra, saat menjadi narasumber dalam sebuah talkshow yang digelar di Rumah Plastik Mandiri, Desa Petandakan, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Adiptha, penataan Titik Nol merupakan contoh kolaborasi antarpemerintah yang berhasil menghadirkan pembangunan strategis tanpa membebani kemampuan fiskal daerah.
"Proyek ini anggarannya kita inovasikan tanpa memberatkan APBD Kabupaten Buleleng. Pendanaannya berasal dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kabupaten Badung dan Pemerintah Provinsi Bali. Ini merupakan bentuk sinergi yang sangat baik sehingga pembangunan tetap bisa berjalan tanpa membebani keuangan daerah," ujarnya.
Namun, di balik wajah baru yang nantinya akan terlihat lebih tertata, fungsi utama proyek tersebut sebenarnya adalah menjawab persoalan banjir yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan warga di sejumlah kawasan Kota Singaraja.
Adiptha menjelaskan, kawasan Titik Nol menjadi lokasi penting dalam sistem drainase perkotaan karena terdapat saluran utama yang mengalirkan air menuju Tukad Banyumala. Melalui proyek penataan ini, kapasitas saluran ditingkatkan agar mampu menampung dan mengalirkan debit air secara lebih optimal.
Dengan peningkatan kapasitas tersebut, pemerintah berharap persoalan genangan yang kerap terjadi di sejumlah kawasan seperti Jalan Anggrek, Kampung Anyar, dan beberapa wilayah sekitarnya dapat berkurang secara signifikan.
"Tujuan awalnya memang untuk mengatasi persoalan banjir. Dengan peningkatan kapasitas saluran, diharapkan genangan yang selama ini terjadi di beberapa kawasan perkotaan dapat diminimalkan," jelasnya.
Tak hanya fokus pada infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Buleleng juga ingin menghidupkan kembali identitas sejarah Kota Singaraja melalui penataan kawasan tersebut. Sebagai pusat kota lama, kawasan Titik Nol dikelilingi berbagai bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang Buleleng sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di Bali Utara.
Keberadaan Kantor Bupati Buleleng, Gedung Gallery, Gedung Laksmi Graha, hingga sejumlah bangunan peninggalan masa lalu dinilai menjadi modal besar untuk mengembangkan kawasan wisata sejarah yang terintegrasi.
"Titik Nol adalah pusat kawasan bersejarah Singaraja. Penataan ini menjadi upaya untuk menghubungkan nilai-nilai sejarah yang kita miliki dengan kebutuhan kota modern," kata Adiptha.
Sebagai bagian dari penataan kawasan, berbagai utilitas perkotaan juga mulai dibenahi. Salah satunya dengan memindahkan jaringan kabel listrik dan telekomunikasi ke bawah tanah agar wajah kota terlihat lebih rapi, aman, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
Ke depan, kawasan Titik Nol juga akan menjadi bagian penting dalam jalur wisata kota atau city tour Singaraja. Jalur tersebut dirancang menghubungkan sejumlah destinasi sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif yang tersebar di pusat Kota Singaraja.
Mulai dari kawasan Puri Agung Singaraja, Taman Bung Karno, sentra kerajinan perak dan songket Beratan, kawasan heritage SMAN 1 Singaraja, hingga kawasan Pabean dan Labuan Buleleng akan terhubung dalam satu jalur wisata yang saling terintegrasi.
Konsep tersebut rencananya akan mulai diperkuat melalui pelaksanaan Buleleng Festival pada Agustus mendatang. Kawasan Titik Nol dan Gedung Gallery diproyeksikan menjadi ruang ekspresi sekaligus pusat aktivitas bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif lokal.
"Kami ingin kawasan ini benar-benar hidup dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu berbagai fasilitas pendukung seperti Wi-Fi, toilet, keamanan, dan kantong parkir juga sudah masuk dalam perencanaan," ungkapnya.
Adiptha juga mengapresiasi tingginya perhatian masyarakat terhadap berbagai program pembangunan di Buleleng. Menurutnya, kritik maupun masukan yang konstruktif menunjukkan tingginya rasa memiliki masyarakat terhadap daerahnya sendiri.
Menurutnya, partisipasi publik menjadi modal penting dalam mewujudkan pembangunan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Dengan konsep yang menggabungkan fungsi pengendalian banjir, pelestarian kawasan heritage, ruang publik modern, hingga penguatan sektor pariwisata dan UMKM, penataan Titik Nol diharapkan tidak sekadar menjadi proyek fisik semata. Kawasan ini diproyeksikan menjadi ikon baru Kota Singaraja yang mampu menghidupkan kembali denyut kota lama sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Bali Utara. (Smty)


Social Header