Breaking News

Dolar Menguat, Wisatawan Asing Tambah Masa Liburan di Bali, Hunian Hotel Terdongkrak

Dampak dari penurunan nilai rupiah mengakibatkan para wisatawan memperpanjang masa liburan mereka di Bali.

DENPASAR, Baliberkabar.id – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah ternyata membawa berkah bagi sektor pariwisata Bali. Di sejumlah kawasan wisata, wisatawan mancanegara kini memiliki daya beli lebih tinggi sehingga memilih memperpanjang masa tinggal mereka di Pulau Dewata. Dampaknya mulai dirasakan pelaku usaha pariwisata, mulai dari hotel, villa hingga pelaku usaha kecil yang menggantungkan pendapatan dari kunjungan wisatawan.

Fenomena tersebut terlihat di kawasan wisata Sanur, Denpasar Selatan, yang hingga kini masih menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan asing. Pantauan Bali Berkabar di sepanjang pesisir Pantai Intaran hingga Pantai Mertasari menunjukkan aktivitas wisata yang cukup ramai dengan dominasi wisatawan mancanegara.

Sejak pagi hari, wisatawan tampak menikmati suasana pantai yang bersih dan tertata. Sebagian berjalan santai di jalur pedestrian yang membentang di sepanjang pesisir, sementara lainnya memilih duduk menikmati pemandangan laut di bawah payung yang disediakan pelaku usaha wisata. Ada yang datang bersama pasangan, keluarga maupun rombongan wisatawan.

Kondisi kawasan yang nyaman, aman, serta didukung fasilitas publik yang memadai membuat banyak wisatawan memilih menghabiskan waktu lebih lama di Sanur.

Salah seorang wisatawan asal Australia yang ditemui saat menikmati suasana Pantai Intaran, Jhon, mengaku merasakan langsung keuntungan dari menguatnya dolar terhadap rupiah. Menurutnya, biaya yang harus dikeluarkan selama berlibur menjadi lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

"Dengan dolar yang naik, kami merasa lebih diuntungkan saat berlibur di Bali. Kami akhirnya bisa menambah waktu tinggal sekitar dua malam lagi," ujar Jhon yang datang bersama istrinya.

Tak hanya memperpanjang masa liburan, Jhon mengaku nilai tukar yang menguntungkan juga membuat dirinya lebih leluasa membelanjakan uang selama berada di Bali.

"Kami juga bisa membeli lebih banyak suvenir untuk dibawa pulang ke Australia. Bali tetap menjadi tempat yang menyenangkan untuk berlibur," katanya.

Dampak serupa juga dirasakan oleh pelaku usaha akomodasi di kawasan wisata lainnya. Sari Dewi, staf sebuah villa di kawasan Canggu, mengatakan penguatan dolar terhadap rupiah berpengaruh terhadap tingkat hunian tempat usahanya.

Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir terjadi peningkatan okupansi, bahkan sejumlah tamu memutuskan memperpanjang masa menginap setelah melihat nilai tukar yang lebih menguntungkan.

"Setelah dolar naik, tingkat hunian di villa kami meningkat. Beberapa tamu yang awalnya hanya berencana menginap dua atau tiga hari akhirnya memperpanjang masa tinggal sekitar dua hari lagi," ujar Sari Dewi.

Ia menjelaskan, sebagian besar wisatawan asing yang menginap membayar akomodasi menggunakan rupiah. Ketika nilai dolar menguat, biaya yang mereka keluarkan menjadi lebih murah jika dihitung dengan mata uang negara asal mereka.

Kondisi ini terjadi di tengah melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dalam beberapa periode sempat mendekati kisaran Rp18 ribu per dolar AS. Situasi tersebut membuat wisatawan asing memiliki daya beli lebih besar selama berlibur di Indonesia, khususnya Bali.

Bagi pelaku pariwisata, meningkatnya lama tinggal wisatawan menjadi kabar baik karena berdampak langsung terhadap perputaran ekonomi daerah. Semakin lama wisatawan berada di Bali, semakin besar pula pengeluaran mereka untuk akomodasi, kuliner, transportasi, hiburan hingga belanja oleh-oleh.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan dolar terhadap rupiah justru memberikan keuntungan bagi wisatawan mancanegara dan membuka peluang bagi sektor pariwisata Bali untuk terus bergerak positif. Ramainya aktivitas wisata di Sanur dan meningkatnya hunian villa di Canggu menjadi salah satu indikator bahwa Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan asing yang ingin menikmati liburan lebih lama di Pulau Dewata. (Smty)
© Copyright 2022 - Bali Berkabar