I Putu Gede Astawa dilantik sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Papua Barat oleh Jaksa Agung RI ST Burhanuddin di Aula Lantai 11 Gedung Utama Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
JAKARTA, Bali Berkabar – Nama I Putu Gede Astawa kembali mendapat perhatian di lingkungan Kejaksaan. Jaksa yang pernah memimpin Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng itu kini dipercaya menduduki jabatan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Papua Barat.
Kepercayaan tersebut diberikan Jaksa Agung Republik Indonesia ST Burhanuddin dalam rangkaian pelantikan sejumlah Kajati dan pejabat eselon II Kejaksaan Agung yang berlangsung di Aula Lantai 11 Gedung Utama Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.
Bagi masyarakat Buleleng, nama I Putu Gede Astawa bukanlah sosok yang asing. Sebelum menempati sejumlah jabatan strategis di tingkat Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Tinggi, Astawa pernah menjadi orang nomor satu di Kejari Buleleng.
Ia dilantik sebagai Kajari Buleleng pada 8 Juni 2020. Setelah sekitar satu tahun sembilan bulan memimpin Kejari Buleleng, Astawa kemudian mendapat tugas baru sebagai Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara Kejati Jawa Timur.
Perjalanan kariernya kemudian terus bergerak ke sejumlah posisi strategis. Ia sempat dipercaya menjalankan tugas di lingkungan Kejaksaan Agung sebelum kembali ke Bali dan menduduki jabatan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Bali pada 2025.
Namun, masa tugasnya sebagai Wakajati Bali berlangsung relatif singkat. Setelah sekitar empat bulan, Astawa kembali mendapat penugasan di Kejaksaan Agung sebagai Direktur III pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen.
Sebelum dipercaya menjadi Kajati Papua Barat, Astawa juga tercatat mengemban amanah sebagai Kepala Pusat Strategi Kebijakan Penegakan Hukum pada Kejaksaan Agung. Rangkaian penugasan tersebut memperlihatkan perjalanan kariernya yang tidak hanya berlangsung di daerah, tetapi juga di lingkungan pusat.
Kini, perjalanan tersebut membawanya ke Papua Barat. Sebagai Kajati, Astawa akan memimpin penyelenggaraan tugas dan fungsi Kejaksaan di wilayah tersebut, termasuk penegakan hukum dan pembinaan satuan kerja Kejaksaan di daerah.
Pelantikan Astawa berlangsung bersamaan dengan pesan tegas Jaksa Agung kepada seluruh pejabat baru. ST Burhanuddin meminta para pejabat yang mendapat amanah segera bekerja untuk memperkuat kembali kepercayaan publik terhadap institusi Kejaksaan.
Menurut Jaksa Agung, Kejaksaan saat ini berada dalam masa ujian. Karena itu, para pejabat baru diminta tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi mampu menunjukkan kinerja nyata dan menjaga integritas institusi.
“Jabatan bukan sekadar kedudukan, kehormatan, maupun kekuasaan, melainkan sebuah amanah dan wujud kepercayaan pimpinan yang harus dijaga serta dipertanggungjawabkan dengan integritas, profesionalitas, dan loyalitas,” tegas ST Burhanuddin.
Pesan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Astawa yang kini harus membawa pengalaman panjangnya dari Bali maupun pusat ke wilayah Papua Barat.
Jika sebelumnya ia pernah berhadapan langsung dengan dinamika penegakan hukum di Buleleng, kemudian menjalankan tugas di tingkat Kejati dan Kejaksaan Agung, kini pengalaman tersebut akan diuji dalam lingkup wilayah kerja yang berbeda.
Bagi Buleleng, perjalanan Astawa juga menjadi catatan tersendiri. Ia pernah memimpin Kejari Buleleng pada periode ketika institusi tersebut menangani sejumlah persoalan hukum yang mendapat perhatian masyarakat.
Setelah meninggalkan Buleleng, karier Astawa terus berkembang. Jabatan demi jabatan yang dipercayakan kepadanya membawanya dari daerah ke tingkat nasional, sebelum akhirnya kembali mendapatkan amanah sebagai pimpinan Kejaksaan Tinggi.
Kini, publik menunggu bagaimana Astawa menjalankan tugas barunya di Papua Barat.
Terlebih, amanat Jaksa Agung tidak ringan. Para Kajati diminta mampu membaca persoalan di wilayah masing-masing, menjalankan penegakan hukum secara profesional, memperkuat transparansi, meningkatkan pengawasan internal, serta tetap menjaga independensi institusi.
Bagi seorang mantan Kajari Buleleng yang kini dipercaya memimpin Kejati Papua Barat, perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa jenjang pengabdian di lingkungan Adhyaksa dapat membawa seorang jaksa dari tingkat kabupaten hingga memimpin institusi Kejaksaan di tingkat provinsi.
Dari Singaraja menuju Papua Barat, I Putu Gede Astawa kini menghadapi panggung tugas yang lebih besar.
Tantangannya pun bukan lagi sekadar bagaimana menjalankan jabatan, tetapi bagaimana membuktikan kepercayaan tersebut melalui penegakan hukum yang profesional, berintegritas dan mampu menjawab harapan masyarakat. (Smty)


Social Header