MAUMERE, Bali Berkabar – Tim SAR gabungan terus bergerak melakukan pencarian dan evakuasi korban pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, menyampaikan kondisi di Maumere saat ini mulai berangsur normal. Guncangan gempa sudah tidak lagi dirasakan, sementara tim SAR bergerak menuju sejumlah wilayah yang hingga kini belum sepenuhnya terjangkau, termasuk wilayah Nagekeo.
Dalam keterangannya, Fathur menyebut data sementara yang diterima hingga sekitar pukul 11.30 WITA mencatat 28 orang menjadi korban, terdiri dari 20 orang meninggal dunia, enam orang mengalami luka-luka, dan dua orang masih tertimbun.
“Jumlah korban yang sudah dapat kami laporkan sesuai dengan data dari beberapa kabupaten yang terdampak sebanyak 28 orang,” ujar Fathur.
Namun, ia menegaskan proses pendataan dan verifikasi masih berlangsung di lapangan. Tim SAR bersama unsur terkait masih bergerak untuk memastikan kondisi warga serta mencari korban yang belum ditemukan.
Salah satu lokasi yang terdampak cukup parah berada di kawasan Pelabuhan Lauren Say, Maumere, Kabupaten Sikka.
Fathur mengatakan, bangunan di kawasan pelabuhan roboh akibat guncangan gempa dan menimbulkan korban.
Berdasarkan keterangan Fathur dalam wawancara, terdapat lima korban di kawasan tersebut, dengan tiga orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka.
Informasi mengenai korban di Pelabuhan Lauren Say juga telah diberitakan oleh sejumlah media berdasarkan keterangan Kepala Kantor SAR Maumere. Dalam laporan awal, identitas salah satu korban meninggal disebut Meliana Nenong, perempuan berusia 54 tahun, yang tertimpa bangunan roboh.
Fathur menjelaskan, operasi pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan. Tim SAR bergerak menggunakan jalur darat maupun laut menuju wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau informasi.
“Kami masih bergerak menuju daerah yang belum kami dapat informasi, yaitu daerah Nagekeo, baik menggunakan jalur darat maupun jalur laut,” katanya.
Kondisi di Maumere sendiri dilaporkan mulai kembali normal. Warga yang sebelumnya berada di tempat-tempat aman disebut sudah mulai kembali ke rumah masing-masing.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada mengingat aktivitas gempa susulan masih terjadi.
Fathur mengatakan, koordinasi dengan pemerintah daerah melalui BPBD dan pihak terkait, termasuk BMKG, masih terus dilakukan untuk memantau perkembangan situasi serta memastikan penanganan korban berjalan.
Sementara terkait warga yang rumahnya mengalami kerusakan atau retak, pihak SAR masih berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
Hingga informasi ini disampaikan, pendirian posko pengungsian juga masih dalam tahap koordinasi dengan pemerintah daerah.
Gempa utama M7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu pagi. Pusat gempa dilaporkan berada di wilayah laut dekat Nagekeo. Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah di Pulau Flores dan menyebabkan kerusakan bangunan serta korban jiwa.
Akses Infrastruktur Terganggu, Tim SAR Tempuh Jalur Laut
Sementara itu, terkait kondisi infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung proses penanganan di wilayah terdampak, Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mengatakan sejumlah akses darat masih mengalami kendala.
Jalur dari arah Ende menuju lokasi terdampak dilaporkan terputus. Selain itu, akses dari arah Manggarai juga mengalami longsor. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim dalam mempercepat mobilisasi menuju lokasi.
Untuk mempercepat response time, tim SAR mengambil inisiatif menggunakan jalur laut menuju wilayah terdampak. Langkah tersebut dilakukan karena akses darat belum sepenuhnya dapat dilalui.
“Kondisi jalan yang terputus, memang kita mengambil inisiatif untuk mempercepat response time. Kita menggunakan jalur laut menuju ke lokasi,” ujar Fathur Rahman.
Fathur mengatakan, saat ini tim masih berupaya tiba di lokasi terlebih dahulu untuk mengetahui secara langsung kondisi di lapangan serta kebutuhan penanganan selanjutnya.
Ia menjelaskan, selain akses yang terputus, longsoran di sejumlah jalur juga menjadi hambatan dalam proses mobilisasi. Karena itu, kondisi infrastruktur dan keterhubungan akses menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat proses respons dan evakuasi di wilayah terdampak. (Smty)


Social Header