DENPASAR, Baliberkabar id -
Pagi itu, teras sebuah rumah sederhana di Denpasar dipenuhi puluhan orang. Mereka duduk melingkar di atas tikar. Ada yang memakai kacamata hitam, ada yang membawa tongkat putih, ada pula yang menggenggam kantong merah berisi sembako.
Di antara mereka, I Ketut Kariyasa Adnyana duduk bersila. Tanpa alas kaki. Jaket dan atribut partai ditinggal di mobil. Yang ada hanya kemeja putih dan percakapan.
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali itu datang pada Sabtu, 29 Agustus 2026, untuk menemui para penyandang disabilitas netra yang berprofesi sebagai tukang pijat. Bukan untuk seremoni. Bukan untuk foto. Tapi untuk duduk, mendengar, dan berbagi.
"Saya sangat mengapresiasi semangat saudara-saudara penyandang disabilitas netra. Di tengah keterbatasan, mereka tetap bekerja mandiri dan tidak menyerah pada keadaan," ujar Kariyasa.
Di depan banner "ANI MASSAGE" yang tergantung di dinding, Kariyasa menyerahkan bantuan paket sembako. Tapi ia menegaskan, materi bukan hal utama.
"Bukan Tentang Seberapa Banyak Yang kita Beri, Namun Tentang Ketulusan Untuk Selalu Peduli," katanya.
Tiga Potret Kepedulian
Dari kegiatan itu, ada 3 potret yang menggambarkan makna kehadiran.
Foto 1: Duduk bareng, dengerin. Ruang dialog yang setara.
Foto 2: Saling menuntun. Ada tongkat putih, ada tangan yang menopang. Gotong royong nyata.
Foto 3: Ngobrol santai di atas tikar. Hangat, manusiawi, tanpa jarak.
"Kadang yang paling dibutuhkan bukan bantuan besar. Cukup duduk, mendengar, menuntun, dan hadir. Karena kepedulian nggak diukur dari nominal. Tapi dari hati."
Bagi Kariyasa, kepedulian itu sederhana: duduk bersama, jalan bersama, saling menguatkan.
"Kehadiran Pemberian. Kepedulian itu menuntun, mendengar, dan menemani," tegasnya.
Kerentanan yang Tak Boleh Diabaikan
Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang membidangi sosial dan pemberdayaan masyarakat, Kariyasa melihat persoalan disabilitas sebagai soal keadilan. Negara, ujarnya, wajib membuka ruang yang setara agar setiap warga bisa berkontribusi.
"Gotong royong bukan sekadar slogan. Ia harus dipraktikkan. Inilah yang diajarkan Bung Karno dan terus dirawat dalam kerja-kerja kami," tegas legislator asal Busungbiu, Buleleng itu.
Ia menyorot bahwa selama ini kebijakan untuk penyandang disabilitas masih sering bersifat karitatif, bukan struktural. Padahal, kata dia, yang dibutuhkan adalah akses: akses kerja, akses pelatihan, akses ruang publik.
Para tukang pijat tunanetra di Denpasar adalah contohnya. Dengan keterbatasan penglihatan, mereka tetap mandiri mencari nafkah. Tapi mereka juga rentan terhadap fluktuasi ekonomi dan minimnya perlindungan sosial.
"Negara harus hadir adil. Jangan hanya saat pemilu, tapi dalam kebijakan sehari-hari," ujarnya.
Trisakti dalam Praktik
Bagi PDI Perjuangan, kegiatan ini adalah implementasi Trisakti: berdaulat di politik, berdikari di ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan.
"Pembangunan tidak boleh meninggalkan siapapun. Termasuk kelompok rentan. Jika kita bicara Indonesia maju, maka majunya harus bersama-sama," kata Kariyasa.
Ia berharap bantuan yang disalurkan bisa langsung dirasakan manfaatnya. Lebih dari itu, ia ingin kebersamaan ini menjadi pengingat bagi negara dan masyarakat.
"Semoga langkah ini mempererat rasa persaudaraan. Sejatinya, nilai kemanusiaan akan selalu tumbuh ketika kita saling peduli dan saling menguatkan," tutupnya.
Kegiatan ditutup dengan obrolan santai. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada barisan. Hanya duduk di teras, seperti tetangga yang saling mengunjungi.(DW)


Social Header