Breaking News

Tirtawan, Legenda Penyelamat Rp98 Miliar, Dukung Ugrasena: Bandara Bali Utara Didesak Segera Direalisasikan untuk Pemerataan Ekonomi

Silaturahmi Sekjen PDI Perjuangan, Dr. Hasto Kristiyanto, bersama para penglingsir Puri se-Bali dan sejumlah tokoh masyarakat di Puri Ageng Blahbatuh, Gianyar, Minggu (30/8/2026).

GIANYAR, Bali Berkabar — Dukungan terhadap pembangunan Bandara Bali Utara kembali mengemuka. Tokoh masyarakat Bali, Nyoman Tirtawan, menyatakan sependapat dengan Penglingsir Puri Ageng Buleleng, Agung Ugrasena, yang mendorong agar pembangunan bandara di Bali Utara segera direalisasikan.

Menurut Tirtawan, Bandara Bali Utara tidak semestinya hanya dipandang sebagai proyek transportasi udara. Infrastruktur tersebut harus mampu menjadi penggerak ekonomi, pariwisata, sekaligus mengoptimalkan potensi maritim Bali dan Indonesia.

Pandangan itu disampaikan Tirtawan setelah menghadiri silaturahmi Sekjen PDI Perjuangan, Dr. Hasto Kristiyanto, bersama para penglingsir Puri se-Bali dan sejumlah tokoh masyarakat di Puri Ageng Blahbatuh, Gianyar, Minggu (30/8/2026).

Tirtawan merupakan salah satu tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut. Setelah acara, ia dimintai pendapat secara pribadi mengenai gagasan pembangunan Bandara Bali Utara yang sebelumnya disampaikan Agung Ugrasena.

Tirtawan menilai pembangunan Bandara Bali Utara merupakan peluang untuk membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru di Bali Utara.

Menurutnya, pembangunan bandara harus dibarengi dengan pemanfaatan potensi alam dan maritim Indonesia.

“Jadi kita bagaimana sebagai manusia bisa mendayagunakan sumber daya alam kita. Di era Kerajaan Majapahit adalah maritimnya yang maju,” ujar Tirtawan.

Karena itu, ia mendukung konsep pembangunan bandara yang terintegrasi dengan transportasi laut dan pariwisata bahari.

Tirtawan membayangkan kawasan tersebut dapat menjadi pusat aktivitas kapal pesiar sekaligus mengoptimalkan potensi laut Bali Utara yang memiliki daya tarik seperti lumba-lumba dan taman laut.

“Di sana ada pariwisata yang menggunakan kapal pesiar dan seterusnya. Namanya potensi laut kita yang luar biasa, yang ada lumba-lumba, ada taman laut,” katanya.

Bahkan, Tirtawan mengusulkan agar kawasan Bandara Bali Utara yang direncanakan dibangun di laut dikombinasikan dengan pembangunan world marine park terbesar di dunia.

“Bahkan saya ingin kombinasi bandara Bali Utara yang akan dibangun di laut dibuat world marine park yang terbesar di dunia,” ujarnya.

Ia membayangkan kapal-kapal besar yang sudah tidak terpakai dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari ekosistem taman laut, tentunya melalui kajian teknis dan dengan memperhatikan ketentuan lingkungan.

Tirtawan juga mengusulkan keterlibatan para ahli, termasuk ahli lumba-lumba, dalam pengembangan kawasan tersebut.

Silaturahmi Sekjen PDI Perjuangan, Dr. Hasto Kristiyanto, bersama para penglingsir Puri se-Bali dan sejumlah tokoh masyarakat di Puri Ageng Blahbatuh, Gianyar.

Sebelumnya, dalam forum silaturahmi tersebut, Penglingsir Puri Ageng Buleleng, Agung Ugrasena, menyampaikan pentingnya pembangunan Bandara Bali Utara untuk meningkatkan konektivitas dan pemerataan pariwisata.

Ugrasena menilai Indonesia membutuhkan infrastruktur yang kompetitif dan komprehensif agar mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan.

Ia bahkan menggagas Bandara Bali Utara sebagai bandara induk pariwisata Nusantara.

Menurut Ugrasena, wisatawan yang datang melalui bandara tersebut nantinya tidak hanya menikmati Bali, tetapi dapat disebarkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti NTB, NTT, Sulawesi, Papua dan wilayah lainnya.

Ugrasena juga menilai anggapan bahwa Bali sudah kelebihan wisatawan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi seluruh wilayah Bali.

Ia mencontohkan Buleleng yang memiliki wilayah luas, tetapi belum menikmati pemerataan kunjungan wisatawan seperti kawasan Bali Selatan.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus mampu membuka akses ekonomi baru sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat lokal.

Sementara itu, Sekjen PDI Perjuangan, Dr. Hasto Kristiyanto, tidak menyampaikan penolakan terhadap gagasan pembangunan Bandara Bali Utara.

Hasto menekankan bahwa pembangunan Bali harus dilakukan secara matang dengan tetap memperhatikan tata ruang, lingkungan dan filosofi Tri Hita Karana.

Ia juga mengingatkan pentingnya memikirkan masa depan Bali melalui konsep Bali 100 Tahun, sehingga pembangunan hari ini tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Dukungan terhadap pembangunan Bandara Bali Utara pada akhirnya tidak cukup hanya berbicara mengenai jumlah pesawat dan wisatawan yang akan datang.

Kesiapan sumber daya manusia Buleleng juga menjadi persoalan penting yang harus dipersiapkan sejak sekarang.

Jika bandara benar-benar dibangun dan arus wisatawan serta investasi meningkat, masyarakat lokal harus memiliki kompetensi untuk mengambil manfaat dari pertumbuhan tersebut.

Masyarakat Buleleng jangan hanya menjadi pekerja di hotel, bandara atau kapal pesiar. Mereka juga harus dipersiapkan menjadi pelaku usaha, tenaga profesional, pengelola destinasi, tenaga teknologi, hingga pelaku ekonomi kreatif.

Pada saat yang sama, potensi urbanisasi dan perubahan tata ruang juga harus diantisipasi agar pertumbuhan Bali Utara tidak mengulang berbagai persoalan yang muncul akibat pembangunan pariwisata yang terlalu terkonsentrasi di Bali Selatan.

Dengan demikian, gagasan Ugrasena mengenai Bandara Bali Utara, dukungan Tirtawan serta pandangan Hasto mengenai pembangunan Bali 100 Tahun dapat ditempatkan dalam satu kerangka besar.

Bandara dapat menjadi pintu masuk wisatawan dan penggerak ekonomi, tetapi perencanaannya harus matang agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat Buleleng dan keberadaan Bali tetap terjaga untuk seratus tahun ke depan. (Smty)

Penulis: Gede Sumertayasa, SH
© Copyright 2022 - Bali Berkabar