Breaking News

Komdigi Dan DPR RI Gelar Forum Diskusi Dengan Tema "Transformasi Pendidikan Di Era Digital"

Soroti Tantangan Literasi Digital, Peran Guru, dan Etika Penggunaan AI



JAKARTA, Baliberkabar.id -Kementerian Komunikasi dan Digital [KOMDIGI] bersama Komisi I DPR RI menyelenggarakan Forum Diskusi Publik bertema "Transformasi Pendidikan di Era Digital" pada Kamis, 13 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB.

Kegiatan yang berlangsung secara Live Webinar dari Jakarta Selatan ini disiarkan langsung melalui kanal @DitjenKPM di YouTube, Instagram, Facebook, dan X.

TANTANGAN BESAR DI TENGAH PELUANG DIGITAL

Forum ini menjadi ruang dialog lintas pemangku kepentingan untuk membahas peluang dan tantangan pendidikan di era digital. Beberapa tantangan yang disorot antara lain kesenjangan akses dan kualitas konektivitas, kompetensi digital, distraksi penggunaan perangkat, misinformasi, keamanan data, ketergantungan teknologi, hingga persoalan integritas akademik.

Acara dibuka dengan keynote speech oleh Drs. Utut Adianto, Ketua Komisi I DPR RI. Dalam pemaparannya, Utut menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan digital yang inklusif dan berkeadilan agar tidak ada peserta didik yang tertinggal.

Mewakili Ketua Komisi I DPR RI, Assoc. Prof. Riyanto selaku Staf Khusus Ketua Komisi I DPR RI menyampaikan data perkembangan penetrasi internet di Indonesia yang terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2022, penetrasi internet tercatat sebesar 77% atau sekitar 210 juta jiwa. Angka tersebut meningkat menjadi 78,2% atau 215 juta jiwa pada 2023, kemudian 79,5% atau 221 juta jiwa pada 2024, 80,7% atau 229 juta jiwa pada 2025, dan mencapai 81,7% atau sekitar 235 juta jiwa pada 2026.

Data juga mencatat bahwa 85,95% penetrasi berada di wilayah Jawa dan terdapat kontribusi sebesar 58,24% terhadap nasional.

Peningkatan penggunaan internet tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital semakin menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan perlu beradaptasi dengan perkembangan6 tersebut.

Transformasi pendidikan di era digital tidak hanya dimaknai sebagai penyediaan perangkat teknologi seperti laptop maupun pemasangan jaringan Wi-Fi di sekolah. Transformasi yang sebenarnya mencakup perubahan cara berpikir atau _mindset_, pembentukan karakter, serta kesiapan dalam menghadapi perkembangan dan tantangan di era siber.

PERAN MAHASISWA, KELUARGA, DAN KOLABORASI MULTI PIHAK

Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki peran penting dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menggunakannya untuk menghasilkan inovasi dan riset yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat mendorong lahirnya berbagai gagasan dan karya yang memberikan manfaat nyata.

Selain mahasiswa, keluarga juga memiliki peran dalam mendukung transformasi pendidikan digital. Orang tua, khususnya para ibu rumah tangga dan orang tua secara umum, diharapkan dapat menjadi pendamping digital atau _digital parent_ yang bijak bagi anak-anak di rumah. Pendampingan tersebut menjadi penting karena proses pendidikan dan penggunaan teknologi tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga dalam kehidupan keluarga.

Transformasi pendidikan digital juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, DPR, perguruan tinggi, sekolah, industri, dan keluarga perlu bergerak secara bersama-sama dalam mendukung proses transformasi tersebut. Kolaborasi antarpihak diperlukan agar perkembangan teknologi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pendidikan dan masyarakat.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pemerataan akses internet. Transformasi pendidikan digital diharapkan tidak menimbulkan kesenjangan baru antara peserta didik yang memiliki akses terhadap teknologi dengan mereka yang belum memiliki akses. Oleh sebab itu, materi menekankan pentingnya memastikan agar tidak ada anak Indonesia yang tertinggal hanya karena tidak memiliki akses internet.

PAPARAN NARASUMBER: DARI HYBRID LEARNING HINGGA KOMPETENSI ABAD 21

Diskusi panel menghadirkan dua narasumber utama.

Pertama, Drs. Gun Siswadi, M.Si, Pegiat Literasi Digital. Pada awal pembahasannya, Gun menyampaikan bahwa pendidikan perlu merespons perkembangan teknologi digital untuk mempermudah proses belajar mengajar serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang digital. Transformasi pendidikan diperlukan karena perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, belajar, berkomunikasi, dan mengakses berbagai sumber pengetahuan.

Dalam pendidikan di era digital, saluran untuk memperoleh sumber belajar semakin beragam. Pembelajaran dapat dilakukan secara synchronous maupun asynchronous, sehingga kegiatan belajar dapat berlangsung secara real time maupun dengan fleksibilitas waktu. Perangkat yang digunakan untuk mengakses sumber belajar juga semakin mobile, mudah, dan beragam, seperti komputer, laptop, smartphone, dan perangkat lainnya.

Perkembangan ini juga memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk tidak hanya menjadi pembelajar, tetapi juga menjadi produsen bahan ajar. Melalui teknologi digital, berbagai sumber daya pembelajaran dapat dibagikan dan dimanfaatkan bersama melalui konsep resource sharing.

Namun, transformasi pendidikan di era digital juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kesenjangan akses dan infrastruktur, karena konektivitas dan pemerataan informasi belum sepenuhnya merata di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, terdapat pula ancaman di dunia maya seperti cyberbullying dan penyebaran hoaks. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan teknologi harus diiringi dengan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

Tantangan lainnya berkaitan dengan sumber daya manusia. Masyarakat perlu meningkatkan kompetensi di bidang teknologi informasi melalui berbagai pelatihan dan sertifikasi profesional. Peningkatan kompetensi tersebut menjadi salah satu upaya untuk mempercepat peningkatan kapasitas sumber daya manusia digital di Indonesia, sehingga dapat mendukung lahirnya inovasi sekaligus meningkatkan daya saing.

Untuk mendukung pendidikan di era digital, diperlukan beberapa upaya, di antaranya perluasan akses terhadap perangkat dan jaringan internet, peningkatan kapasitas guru, serta pemberdayaan orang tua. Keberhasilan transformasi pendidikan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan tenaga pendidik dan lingkungan keluarga dalam mendukung proses pembelajaran digital.

Gun Gun juga membahas hybrid learning, yaitu model pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka di kelas dengan pembelajaran daring secara bersamaan. Melalui model ini, sebagian siswa dapat mengikuti pembelajaran secara langsung di kelas, sementara siswa lainnya dapat mengikuti pembelajaran secara virtual menggunakan gawai atau laptop. Hybrid learning dinilai memiliki beberapa manfaat, antara lain membuat pembelajaran lebih efisien dan efektif, memberikan variasi dalam proses pembelajaran, mengurangi berbagai kendala dan kontak fisik, serta membantu mengembangkan keterampilan digital peserta didik.

Selain itu, hybrid learning memungkinkan dilaksanakannya pembelajaran jarak jauh dan dapat menciptakan sesi belajar yang lebih menyenangkan. Model tersebut juga dapat mendorong anak menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Dalam kondisi tertentu, seperti masa pandemi, hybrid learning dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga keberlangsungan proses pendidikan.

Gun Gun menekankan bahwa meskipun teknologi semakin banyak digunakan, peran guru tetap semakin penting bagi murid.

Kedua, Dr. Verdi Yasin, M.Kom, Dosen STMIK Jayakarta. Dalam pemaparannya, Verdi menegaskan bahwa kegiatan dengan tema "Transformasi Pendidikan di Era Digital" membahas pentingnya perubahan dalam dunia pendidikan seiring dengan perkembangan teknologi. 

Transformasi pendidikan tidak hanya berarti memindahkan proses pembelajaran ke media digital, tetapi juga mengubah cara belajar, mengajar, berkolaborasi, berkarya, dan memecahkan masalah. Dalam proses tersebut, teknologi berperan sebagai alat, sedangkan manusia tetap menjadi pusat dari pendidikan.

Verdi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi seperti _Artificial Intelligence_ [AI], perangkat pembelajaran digital, dan _Interactive Flat Panel_ [IFP] dapat mendukung pembelajaran yang lebih interaktif dan berpusat pada peserta didik. Namun, transformasi digital juga menghadapi berbagai tantangan, antara lain kesenjangan akses dan kualitas konektivitas, kompetensi digital, distraksi penggunaan perangkat, misinformasi, keamanan data, ketergantungan teknologi, serta persoalan integritas akademik.

Lebih lanjut, Verdi menyoroti pergeseran peran guru dan dosen pada era digital. Guru dan dosen tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator, mentor, kurator informasi, pengarah proyek, pengembang kompetensi, serta teladan dalam penerapan etika digital. 

Sementara itu, mahasiswa diharapkan mampu menjadi _digital citizen_ yang dapat belajar sepanjang hayat, menggunakan AI secara bertanggung jawab, menghasilkan konten positif, memecahkan masalah, berkolaborasi secara digital, dan mendorong inovasi di masyarakat.

Model pembelajaran masa depan diarahkan pada proses _learn, practice, create, collaborate,_ dan _reflect_, sehingga fokus pendidikan bergeser dari sekadar menghafal menuju kemampuan menerapkan pengetahuan. Peserta didik juga perlu mengembangkan kompetensi abad ke-21, yaitu berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta literasi digital, data, dan AI, disertai kemampuan beradaptasi dan memecahkan masalah.

PERKEMBANGAN AI DAN ETIKA PENGGUNAAN

Pembahasan khusus mengenai AI menjadi sorotan dalam forum. Perkembangan AI memberikan perubahan terhadap cara belajar, cara mengajar, serta cara mengakses pengetahuan. AI dapat dimanfaatkan sebagai salah satu teknologi pendukung dalam proses pendidikan, tetapi pemanfaatannya perlu dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.

Dalam penggunaan AI, peserta didik perlu tetap menjunjung tinggi etika akademik dengan tidak mengakui hasil AI sebagai karya pribadi tanpa pengungkapan yang sesuai, melakukan verifikasi fakta dan sumber, tidak memasukkan data sensitif ke layanan AI, serta tetap mempertahankan proses berpikir dan orisinalitas. 

"AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu dalam proses belajar, bukan sebagai pengganti pemikiran manusia," tegas para narasumber.

SESI TANYA JAWAB: SUARA PESERTA DAN RESPON NARASUMBER

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab yang interaktif. Beberapa pertanyaan penting yang mengemuka antara lain:

1. Wira bertanya: _"Jika pendidikan adalah 'senjata paling ampuh untuk mengubah dunia', bagaimana teknologi digital dapat memperkuat peran pendidikan tersebut di era sekarang?"_  
    Jawaban Narasumber: Salah satunya melalui pendekatan pendidikan berbasis teknologi. Pendidikan konvensional bertransformasi menjadi pendidikan berbasis digitalisasi. Banyak manfaatnya, salah satunya pembelajaran menjadi lebih fleksibel. Yang terpenting adalah peran pemerintah dalam mendukung transformasi pendidikan.

2. Nandi bertanya: "Menurut Bapak/Ibu, apa perubahan paling besar yang harus dilakukan dalam sistem pendidikan Indonesia agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang begitu cepat?"_  
    Jawaban Narasumber: Dengan hadirnya teknologi banyak hal yang berubah. Namun perlu edukasi bahwa teknologi bukanlah ujung tombak dari semua aktivitas pendidikan. Teknologi digital hanyalah alat bantu untuk bagaimana kita memanfaatkannya dalam dunia pendidikan.

3. M. Azwan bertanya: "Literasi digital seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh generasi muda saat ini? Apakah cukup hanya bisa menggunakan teknologi?"
    Jawaban Narasumber: Tidak cukup. Penggunaan teknologi hanyalah sebuah tools. Yang harus dikuasai adalah bagaimana memahami dan menguasai teknologi digital tersebut secara mendalam.

4. Meika Saputri bertanya: "Bagaimana kita menghadapi kesenjangan akses teknologi dan internet antara siswa di kota besar dengan mereka yang berada di daerah tertinggal?"  
    Jawaban Narasumber: Sebenarnya hal ini sudah menjadi fasilitasi negara, namun pelaksanaannya belum maksimal. Salah satu solusinya adalah transformasi belajar melalui program pertukaran siswa antara sekolah unggul dengan sekolah di daerah terpencil. Tentu harus ada kerja sama antar sekolah. Semoga melalui seminar ini pemerintah dapat meningkatkan akses internet di daerah-daerah terpencil.

AJAKAN UNTUK MAHASISWA DAN MASYARAKAT

Sebagai langkah praktis, mahasiswa dianjurkan untuk menguasai setidaknya satu keterampilan digital, membangun portofolio, memanfaatkan AI untuk belajar, serta aktif mengikuti komunitas atau proyek. 

Masyarakat juga perlu meningkatkan literasi digital, mempelajari keterampilan baru, melindungi data pribadi, dan menggunakan teknologi secara produktif.

Dengan demikian, transformasi pendidikan di era digital diharapkan dapat berlangsung secara inklusif, aman, bertanggung jawab, dan tetap menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan. Secara keseluruhan, transformasi ini bukan sekadar memindahkan proses pendidikan ke dalam perangkat digital, melainkan merupakan perubahan yang lebih mendasar dalam cara berpikir, pembentukan karakter, pemanfaatan teknologi, serta kesiapan masyarakat menghadapi era siber. Teknologi digital dapat menjadi sarana penting dalam mendukung pendidikan, tetapi teknologi bukanlah tujuan akhir. Pemanfaatannya harus diarahkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar, meningkatkan kompetensi peserta didik, serta menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel dan relevan dengan perkembangan zaman.

Forum dipandu oleh _Gadis Basalamah_ sebagai moderator dan _Sivi Maynika_ sebagai MC. Rekaman lengkap dapat diakses di @DitjenKPM.

_Narahubung: Humas Ditjen KPM KOMDIGI_


Editor: D. Wahyudi
© Copyright 2022 - Bali Berkabar