Webinar Kolaborasi Komdigi - DPR RI: Banyu Biru Djarot, Dekan Untag Banyuwangi, dan Pakar Pendidikan Rumuskan 5 Kompas Etika Digital untuk Generasi Emas 2045
Jakarta, Baliberkabar.id -Pancasila harus menjadi kompas etika dalam menggunakan teknologi, bukan sekadar seremonial yang dibacakan tiap upacara. Pesan keras agar masyarakat tidak menjadi budak algoritma mengemuka dalam Webinar Kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan DPR RI bertema Penguatan Ideologi Pancasila, Senin (22/09/2026).
Webinar yang diikuti ratusan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan komunitas digital ini menghadirkan tiga narasumber berkompeten: Anggota DPR RI Banyu Biru Djarot sebagai keynote speaker, Dekan FISIP Untag '45 Banyuwangi Assoc. Prof. Dr. Hary Priyanto, S.T., M.Si., CPGPA, dan pakar pendidikan transformasi digital Dr. Anton Zulkarnain Sianipar, M.Pd.
Tantangan Ideologi di Balik Algoritma
Dalam paparan pembuka, Banyu Biru Djarot menegaskan tantangan ideologi kebangsaan hari ini tidak lagi berbentuk ancaman fisik, melainkan ancaman di ruang digital yang lebih halus namun menggerus persatuan.
"Perkembangan teknologi membawa tantangan ideologi lewat algoritma, disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi di media sosial. Kalau dulu gotong royong itu membangun rumah bersama, di era digital gotong royong harus diwujudkan lewat kolaborasi digital dan literasi," tegas Banyu.
Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini juga menekankan transformasi digital harus berorientasi pada keadilan sosial sesuai sila kelima Pancasila. Pemerataan konektivitas dan akses teknologi harus dirasakan hingga ke desa-desa, tidak hanya dinikmati masyarakat perkotaan.
"Jangan sampai digitalisasi hanya menciptakan kesenjangan baru. Keadilan digital adalah wujud nyata sila kelima," tambahnya.
Pancasila sebagai Fundamen, Bukan Sekadar Konsep
Sementara itu, Dekan FISIP Untag '45 Banyuwangi, Assoc. Prof. Dr. Hary Priyanto memberikan landasan historis dan konseptual. Ia menjelaskan Pancasila adalah fundamen kebangsaan bersama tiga pilar lainnya: UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Hary mengingatkan tantangan internal yang masih mengancam, yakni lemahnya penghayatan nilai-nilai agama, menguatnya fanatisme kedaerahan dan kesukuan, serta minimnya keteladanan dari pemimpin.
"Belum lagi tekanan globalisasi dan modernisasi yang jika tidak disaring, bisa menggerus jati diri bangsa," ujar Hary.
Untuk membumikan Pancasila, ia mengajak peserta menelusuri sejarah lahirnya Pancasila: dari pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, perumusan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, hingga penetapan final dalam Pembukaan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945.
"Membumikan Pancasila butuh internalisasi, bukan sekadar konsep di atas kertas. Tapi diwujudkan nyata dalam tindakan sehari-hari, dari toleransi beragama, solidaritas sosial, cinta tanah air, musyawarah untuk mufakat, hingga semangat gotong royong," tegasnya.
Terobosan: 5 Kompas Etika Digital dan Filter Pancasila
Puncak webinar diisi paparan inovatif dari Dr. Anton Zulkarnain Sianipar yang mengenalkan terobosan konsep *Pancasila sebagai 5 Kompas Etika Digital.* Konsep ini menerjemahkan lima sila menjadi panduan praktis bermedia sosial.
Rinciannya:
1. Sila Ketuhanan: Menjadi landasan etika dan toleransi dalam berinteraksi, tidak menyebar kebencian atas nama agama.
2. Sila Kemanusiaan: Menjunjung empati, menghargai martabat, dan melindungi privasi data orang lain.
3. Sila Persatuan: Mencegah polarisasi, tidak memecah belah, dan memperkuat persatuan di tengah perbedaan pilihan.
4. Sila Kerakyatan: Mendorong dialog yang sehat, kritis, dan menghargai perbedaan pendapat dengan cara musyawarah.
5. Sila Keadilan: Mendorong pemerataan akses teknologi dan memastikan teknologi membawa kesejahteraan bagi semua.
Tidak hanya itu, Anton juga mengenalkan tools praktis bernama "Filter Pancasila" yang wajib digunakan sebelum membagikan (share) informasi apapun.
"Sebelum klik share, cek 5 hal dengan Filter Pancasila: cek sumbernya valid atau tidak, cek faktanya benar atau hoaks, cek konteksnya utuh atau dipotong, cek emosinya memancing amarah atau tidak, dan cek dampaknya bagi persatuan bangsa," jelas Anton.
Ia juga mengingatkan dua sisi mata uang kecerdasan buatan (AI). Di satu sisi AI memberi peluang luar biasa untuk pendidikan, produktivitas, dan kreativitas. Namun di sisi lain berisiko menghadirkan deepfake, bias algoritma, plagiarisme massal, dan kebocoran data pribadi.
"Teknologi menentukan seberapa cepat kita bergerak, Pancasila menentukan ke arah mana kita bergerak. Jangan sampai kita cepat larinya, tapi salah arahnya," tutup Anton dengan quote yang menjadi highlight webinar.
Di akhir sesi, ketiga narasumber sepakat mendorong generasi muda untuk naik kelas. Tidak hanya menjadi _consumer_ atau penikmat teknologi, tapi harus menjadi _creator_ (pencipta karya), _collaborator_ (kolaborator kebaikan), hingga _digital citizen_ yang kritis, beretika, dan memberi dampak nyata untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Narasumber:
1. Banyu Biru Djarot - Anggota DPR RI (Keynote Speaker)
2. Assoc. Prof. Dr. Hary Priyanto, S.T., M.Si., CPGPA - Dekan FISIP Untag '45 Banyuwangi
3. Dr. Anton Zulkarnain Sianipar, M.Pd - Akademisi / Pakar Transformasi Digital
Penyelenggara: Webinar Kolaborasi Komdigi x DPR RI - Program Literasi Digital Nasional | Senin, 22 September 2026


Social Header