Klungkung, Bali Berkabar – Polres Klungkung menggelar kegiatan sosialisasi tentang henti jantung, pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Basic Life Support (BLS), serta sosialisasi paket skrining penyakit jantung. Kegiatan berlangsung di Aula Jalaga Dharma Pandhapa Polres Klungkung dan diikuti oleh personel Polres Klungkung, Jumat, (25/9).
Kegiatan tersebut dihadiri Wakapolres Klungkung Kompol I Made Ariawan P., S.H., Kasi Dokkes Polres Klungkung, Ketua Tim Sosialisasi Perawat Ahli Madya RSUD Kabupaten Klungkung Ns. Luh Henny Saraswastini, S.Kep., M.H.Kes., serta narasumber Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUD Kabupaten Klungkung Dr. NGP Sri Andayani, Sp.JP., FIHA., FAsCC., FICA.
Dalam sambutannya, Wakapolres Klungkung Kompol I Made Ariawan P., S.H., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim sosialisasi serta narasumber dari RSUD Kabupaten Klungkung yang telah hadir memberikan pengetahuan kepada personel Polres Klungkung.
“Pengetahuan mengenai henti jantung dan Bantuan Hidup Dasar ini sangat penting, khususnya sebagai bekal personel ketika melaksanakan tugas di lapangan. Diharapkan personel mampu memberikan pertolongan pertama apabila menemukan masyarakat yang mengalami kondisi darurat, sebelum mendapatkan penanganan dari tenaga medis,” ujar Wakapolres.
Sementara itu, Ketua Tim Sosialisasi Ns. Luh Henny Saraswastini menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Jantung Sedunia Tahun 2026. Menurutnya, anggota Polri merupakan salah satu unsur yang berada di garis terdepan dalam memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.
“Diharapkan apabila anggota Polri dalam melaksanakan tugas di lapangan menemukan masyarakat yang diduga mengalami serangan jantung atau kondisi kegawatdaruratan, dapat memberikan pertolongan pertama yang tepat sebelum ambulans maupun petugas kesehatan tiba di lokasi,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan informasi mengenai fasilitas akomodasi rawat inap bagi anggota Kepolisian maupun keluarga inti anggota Polres Klungkung yang terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Fasilitas tersebut dapat diberikan setingkat lebih tinggi dari hak kelas BPJS yang dimiliki, dengan tetap memperhatikan ketersediaan tempat tidur atau ruang rawat inap.
Tim sosialisasi juga mengimbau personel Polri maupun masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up secara berkala guna mengetahui kondisi kesehatan, termasuk mendeteksi adanya faktor risiko maupun penyakit jantung sejak dini.
Dalam pemaparannya, Dr. NGP Sri Andayani, Sp.JP., FIHA., FAsCC., FICA, menjelaskan perbedaan antara serangan jantung dan henti jantung mendadak.
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung mengalami penyumbatan, antara lain akibat plak atau kolesterol. Kondisi tersebut membuat otot jantung kekurangan oksigen, sementara jantung pada umumnya masih berdetak. Gejala yang dapat muncul antara lain nyeri dada yang dapat menjalar, sesak napas, keringat dingin dan pasien masih dalam keadaan sadar.
Sementara itu, henti jantung mendadak merupakan kondisi ketika jantung tiba-tiba berhenti memompa darah akibat gangguan listrik atau irama jantung yang fatal. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan korban tiba-tiba jatuh atau roboh, tidak memberikan respons, serta tidak bernapas normal atau hanya menunjukkan napas megap-megap (gasping).
“Apabila menemukan seseorang dalam kondisi seperti ini, yang paling penting adalah tidak panik. Pastikan lokasi aman, periksa respons korban, segera aktifkan sistem kegawatdaruratan dan minta bantuan orang sekitar. Selanjutnya, apabila korban tidak memberikan respons dan tidak bernapas normal, segera lakukan Resusitasi Jantung Paru atau CPR,” terang Dr. Sri Andayani.
Dalam materi BHD, peserta diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah pertolongan awal, mulai dari memastikan keamanan lokasi, memeriksa kesadaran korban, menghubungi layanan medis darurat, hingga melakukan kompresi dada. Kompresi dilakukan di tengah dada dengan kecepatan sekitar 100–120 kali per menit dan kedalaman sekitar 5–6 sentimeter pada korban dewasa.
Peserta juga diberikan pengetahuan mengenai penggunaan Automated External Defibrillator (AED) apabila alat tersebut tersedia, dengan mengikuti petunjuk suara maupun instruksi yang diberikan oleh perangkat.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Personel Polres Klungkung mengikuti simulasi secara langsung sehingga diharapkan tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan dasar dalam memberikan pertolongan pada kondisi kegawatdaruratan.
Melalui kegiatan tersebut, Polres Klungkung berharap peningkatan pengetahuan dan keterampilan personel dalam penanganan kondisi kegawatdaruratan dapat mendukung pelaksanaan tugas di lapangan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan segera. (Sdn/Hms)


Social Header